Jumat, 08 Juni 2012

AJARAN CINTA (Rabi’ah al-Adawiyah)



Oleh: Eep Sofwana Nurdin

Pendahuluan
           
Cinta yang dalam tasawuf dikenal dengan istilah mahabbah, adalah pilar utama bagi ehidupan seorang sufi, karena dasar setiap gerak dan diam adalah cinta. Tiada kehidupan tanpa cinta dan dengan cinta kehidupan tercipta.
            Cinta Allah kepada seorang hamba ditunjukkan dengan kedekatan-Nya pada hamba itu, sedangkan cinta hamba kepada Allah ditunjukkan dengan taat melakukan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan mempersembahkan kepasrahan total di hadapan-Nya.
            Puncak cinta berakhir dengan disingkapkannya hijab Allah, dibukanya pintu, dan dipersilahkannya seorang hamba masuk ke hadirat Allah bersama para ahbab, para pecinta yang mempunya maqam khusus di hadapan-Nya.

Biografi Singkat

Salah seorang penyair Sufi perempuan yang terkenal pada abad ke-2H, atau ke-8M di Bashrah Iraq, adalah Rabi’ah al-Adawiyah. Seorang perempuan yang menghijabi dirinya dengan keikhlasan agama, seorang yang selalu membara oleh api cinta dan kerinduan kepada Tuhan. Seorang yang selalu terpikat oleh kecenderungannya untuk selalu dekat dengan Tuhannya dan dilumatkan oleh keagungan menyatu dengan-Nya, seorang perempuan yang telah menanggalkan dirinya guna menyatu dengan Yang Agung.[1]
Pada malam lahirnya al-Adawiyah ke dunia, tidak ada apapun yang pantas untuk menyambut kelahiran sang bayi. Ayahnya begitu miskin, hingga tidak memiliki lampu untuk penerangan  ruangan. Juga tidak setitik minyak saminpun karena habis Ia mempunyai tiga orang putri, maka putri yang ke empat diberi nama Rabi’ah. Ayahnya menamakan Rabi’ah,  yang artinya “empat”, tak lain karena ia merupakan anak keempat dari keempat saudaranya itu.
Dalam hidupnya ayah Rabi’ah adalah seorang hamba yang soleh, yang telah berjanji untuk tidak meminta bantuan pada sesama manusia (kecuali pada Tuhan), namun karena desakan keadaan dan permohonan seorang isteri juga karena merasa kasihan kepada sang anak ia pergi ke rumah-rumah tetangga dan mengetuk pintunya hendak meminta bantuan, tetapi tak ada satu jawaban apapun dari balik pintu, Ismail (ayah Rabi’ah) pun terpaksa pulang dengan tangan hampa.
Saat Ismail tertidur untuk menunggui putri keempatnya yang baru lahir tersebut, ia kemudian bermimpi didatangi oleh Nabi Muhammad Saw dan bersabda: “Janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, yang pengaruhnya akan dianut oleh 7.000 umatku.” Nabi kemudian bersabda lagi: “Besok kirimkan surat kepada Isa Zadzan, Amir kota Basrah, ingatkanlah kepadanya bahwa ia biasanya bershalawat seratus kali untukku dan pada malam Jum’at sebanyak empat ratus kali, tetapi malam Jum’at ini ia melupakanku, dan sebagai hukumannya ia harus membayar denda kepadamu sebanyak empat ratus dinar.”
Ayah Rabi’ah kemudian terbangun dan menangis. Tak lama, ia pun menulis surat dan mengirimkannya kepada Amir kota Basrah itu yang dititipkan kepada pembawa surat pemimpin kota itu. Ketika Amir selesai membaca surat itu, ia pun berkata: “Berikan dua ribu dinar ini kepada orang miskin itu sebagai tanda terima kasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk memberi empat ratus dinar kepada orang tua itu dan katakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia menghadapku supaya aku dapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidaklah tepat bahwa orang seperti itu harus datang kepadaku, akulah yang akan datang kepadanya dan mengusap penderitaannya dengan janggutku.[2]
Pernah suatu ketika ayahnya berdoa agar ia dikaruniai seorang anak laki-laki. Keinginan untuk memperoleh anak laki-laki ini disebabkan karena keluarga Rabi’ah bukanlah termasuk keluarga yang kaya raya, tapi sebaliknya hidup serba kekurangan dan penuh penderitaan. Setiap hari ayahnya kerap memeras keringat untuk menghidupi keluarganya, sementara anak-anaknya saat itu masih terbilang kecil-kecil. Apalagi dengan kehadiran Rabi’ah, beban penderitaan ayahnya pun dirasakan semakin bertambah berat, sehingga bila kelak dikaruniai anak laki-laki, diharapkan beban penderitaan itu akan berkurang karena anak laki-laki bisa melindungi seluruh keluarganya. Atau paling tidak bisa membantu ayahnya untuk mencari penghidupan.
Sekalipun keluarganya berada dalam kehidupan yang serba kekurangan, namun ayah Rabi’ah selalu hidup zuhud dan penuh kesalehan. Begitu pun Rabi’ah, yang meskipun sejak kecil hingga dewasanya hidup serba kekurangan, namun ia sama sekali tidak menciutkan hatinya untuk terus beribadah kepada Allah. Sebaliknya, kepapaan keluarganya ia jadikan sebagai kunci untuk memasuki dunia sufi, yang kemudian melegendakan namanya sebagai salah seorang martir sufi wanita di antara deretan sejarah para sufi.
Suatu ketika, Rabiah al-Adawiyah beserta keluarganya sedang mengadakan acara makan bersama. Sebelum menyantap makanan, Rabi’ah memandang ayahnya seraya berkata, “wahai Ayah, perkara yang haram selamanya tak akan menjadi halal. Apalagi karena ayah merasa berkewajiban memberi nafkah kepada kami.” Seketika itu Ismail dan istrinya terkejut mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Rabi’ah.  Sehingga makanan yang sudah di mulut akhirnya tak jadi dimakan. Ia memandangi  Rabi’ah dengan pandangan yang lembut dan penuh kasih sayang. Sambil tersenyum, si ayah lalu berkata, “Rabi’ah, bagaimana pendapatmu, jika ayah tidak menemukan makanan apa pun kecuali barang yang haram?” Dengan cerdas Rabi’ah menjawab: “kita harus banyak bersabar karena menahan rasa lapar di dunia, ini jauh lebih ringan dan lebih baik daripada harus menanggung siksa kelak dalam api neraka. Ismail merasakan ketenangan dengan jawaban rabi’ah, wajahnya berseri-seri. Pada umumnya, anak seusia Rabi’ah  belum bisa memberikan jawaban setegas jawaban yang diberikan oleh Rabi’ah. Hal itu merupakan cermin keimanan yang sangat mendalam yang telah tertanam sejak usia dini.[3]

Rabi’ah Dewasa
Saat Rabi’ah menginjak dewasa, ayah dan ibunya kemudian meninggal dunia. Jadilah kini ia sebagai anak yatim piatu. Penderitaan Rabi’ah terus bertambah, terutama setelah kota Basrah dilanda kelaparan hebat. Rabi’ah dan suadara-saudaranya terpaksa harus berpencar, sehingga ia harus menanggung beban penderitaan itu sendirian.
Pada suatu hari, ketika Rabi’ah sedang berejalan sendirian menelusuri lorong jalanan di kota Basrah, tiba-tiba seseorang menyekap dan menculiknya. Mulut Rabi’ah juga dibungkam dengan sehelai kain. Kemudian ia dibawa dan dijual seharga enam dirham.[4]
Dalam statusnya sebagai budak, Rabi’ah benar-benar diperlakukan kurang manusiawi. Siang malam tenaga Rabi’ah diperas tanpa mengenal istirahat. Pada saat ia keluar untuk membeli keperluan rumah tanpa didampingi oleh majikannya ke pasar yang tempatnya tidak jauh dari tempat majikannya. ada seorang laki-laki asing yang selalu memperhatikan gerak-gerik Rabi’ah seraya laki-laki itu ingin melakukan sesuatu atau dengan kata lain mempunyai niat buruk dan ingin mencelakai Rabi’ah. Ketika laki-laki itu mendekatinya, Rabi’ah lalu menjauh dan berlari dan kemudian jatuh terpeleset. Tangannya patah dan mukanya tersungkur di pasir panas dan berkata:
“Tuhan, tanganku kini patah, aku benar-benar telah menanggung kepedihan. Kepedihan lahir dan batin. Aku telah ditinggalkan oleh kedua orangtua. Dan aku akan selalu menerima cobaan apapunyang hendakl Engkau timpakan ke atas diriku. Aku akan selalu sabar menerima. Tuhan, apakah Engkau masih ridha dalam menerima keadaanku yang dhaif ini. Tuhan aku akan selalu bertanya apakah Engkau masih mencintaiku?[5]

Dengan pertolongan Allah swt Rabi’ah akhirnya selamat dari kejaran laki-laki yang mempunyai niat buruk tersebut. Setelah itu, Rabi’ah kembali pulang pada tuannya dan tetap menjalankan ibadah puasa sambil melakukan pekerjaannya sehari-hari.
Keadaan rabi’ah sebagai anak yatim piatu, perbudakan, penyiksaan, penghinaan, dan cobaan-cobaan yang lainnya yang telah dialami oleh Rabi’ah bukanlah sesuatu yang harus diresahkan. Akan tetapi, keridhaan dan kemurkaan Allah swt. yang selalu membuatnya resah. Apabila dibandingkan antara cobaan dan keridhaan Allah swt. keridhaan Allah swt. lebih mahal, sehingga ia sanggup menanggung setiap bentuk penyiksaan, asalkan ia tidak mendapat murka Allah. Kemurkaan Allah sajalah yang ia takuti dalam hidupnya.  [6]
Pada suatu malam, tuannya sempat terbangun dari tidurnya dan dari jendela kamarnya ia melihat Rabi’ah sedang sujud beribadah.
Dalam shalatnya Rabi’ah berdoa, “Ya Allah, ya Tuhanku, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui keinginan dalam hatiku untuk selalu menuruti perintah-perintah-Mu. Engkau senantiasa mengetahu bahwa cahaya mataku ini khidmah kepada-Mu. Seandainya urusan ini berada dalam kekuasaanku, niscaya tak sesaatpun  terlewat dari munajat kepada-Mu. Tetapi Engkau telah membiarkan diriku berada dalam pemeliharaan makhluk yang tidak mau beribadah kepada-Mu.[7]

Tatkala Rabi’ah masih khusyuk beribadah, tuannya tampak melihat ada sebuah lentera yang tergantung di atas kepala Rabi’ah tanpa ada sehelai tali pun yang mengikatnya. Lentera yang menyinari seluruh rumah itu merupakan cahaya “sakinah” (diambil dari bahasa Hebrew “Shekina”, artinya cahaya Rahmat Tuhan) dari seorang Muslimah suci. Melihat peristiwa aneh yang terjadi pada budaknya itu, majikan Rabi’ah tentu saja merasa ketakutan. Ia kemudian bangkit dan kembali ke tempat tidurnya semula. Sejenak ia tercenung hingga fajar menyingsing. Tak lama setelah itu ia memanggil Rabi’ah dan bicara kepadanya dengan baik-baik seraya membebaskan Rabi’ah sebagai budak. Rabi’ah pun pamitan pergi dan meneruskan pengembaraannya di padang pasir yang tandus.
Kehidupan Rabi’ah setelah terbebas dari perbudakan, merupakan pelajaran yang bermanfaat dan menjadi nasehat yang sempurna. Sebab ia telah menyebarkan nasehat yang bijak dengan kata-kata yang mulia, dikalangan generasi laki-laki dan perempuan pada masanya. Rabi’ah menapaki jalan dimana ia memulai langkah hidup. Sebuah jalan yang erat kaitannya dengan ridha Allah Swt.[8]
Rabi’ah memahami betul bahwa Tuhan dunia  ini juga Tuhan dihari kemudian. Oleh karena itu, jika Ia meridhai kita, menjadi yang pertama dari semua, Ia akan menganugerahi kita di dunia ini dan akan melimpahkan anugerah dihari kemudian.[9]
Jalan Menuju Mahabbah Kepada Allah
1.      Tidak Menikah
Sebagaimana yang banyak ditulis dalam biografi Rabi’ah al-Adawiyah, wanita suci ini sama sekali tidak memikirkan dirinya untuk menikah. Sebab, menurut Rabi’ah, jalan tidak menikah merupakan tindakan yang tepat untuk melakukan pencarian Tuhan tanpa harus dibebani oleh urusan-urusan keduniawian. Padahal, tidak sedikit laki-laki yang berupaya untuk mendekati Rabi’ah dan bahkan meminangnya. Di antaranya adalah Abdul Wahid bin Zayd, seorang sufi yang zuhud dan wara. Ia juga seorang teolog dan termasuk salah seorang ulama terkemuka di kota Basrah. 
Suatu ketika, Abdul Wahid bin Zayd sempat mencoba meminang Rabi’ah. Tapi lamaran itu ditolaknya dengan mengatakan, “Wahai laki-laki sensual, carilah perempuan sensual lain yang sama dengan mereka. Apakah engkau melihat adanya satu tanda sensual dalam diriku?”
Laki-laki lain yang pernah mengajukan lamaran kepada Rabi’ah adalah Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorang Amir Abbasiyah dari Basrah (w. 172 H). Untuk berusaha mendapatkan Rabi’ah sebagai istrinya, laki-laki itu sanggup memberikan mahar perkawinan sebesar 100 ribu dinar dan juga memberitahukan kepada Rabi’ah bahwa ia masih memiliki pendapatan sebanyak 10 ribu dinar tiap bulan. Tetapi dijawab oleh Rabi’ah, ”Aku sungguh tidak merasa senang bahwa engkau akan menjadi budakku dan semua milikmu akan engkau berikan kepadaku, atau engkau akan menarikku dari Allah meskipun hanya untuk beberapa saat.”[10]
Dalam kisah lain disebutkan, sahabat Rabi’ah bernama Hasan al-Bashri bercakap-cakap dengan Rabi’ah perihal pernikahan. Hasan al-Bashri bertanya “wahai Rabi’ah apakah engkau akan menikah? kemudian Rabi’ah menjawab “Jika engkau dapat menjawab empat pertanyaanku, aku pun akan menikah.” Hasan al-Bashri berkata, “Bertanyalah, dan jika Allah mengizinkanku, aku akan menjawab pertanyaanmu.” “Pertanyaan pertama,” kata Rabi’ah, “Apakah yang akan dikatakan oleh Hakim dunia ini saat kematianku nanti, akankah aku mati dalam Islam atau murtad?” Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui yang dapat menjawab.” “Pertanyaan kedua, pada waktu aku dalam kubur nanti, di saat Malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku, dapatkah aku menjawabnya?” Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.” “Pertanyaan ketiga, pada saat manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar di Hari Perhitungan (Yaumul Hisab) semua nanti akan menerima buku catatan amal di tangan kanan dan di tangan kiri. Bagaimana denganku, akankah aku menerima di tangan kanan atau di tangan kiri?” Hasan kembali menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Tahu.” “Pertanyaan terakhir, pada saat Hari Perhitungan nanti, sebagian manusia akan masuk surga dan sebagian lain masuk neraka. Di kelompok manakah aku akan berada?” Hasan lagi-lagi menjawab seperti jawaban semula bahwa hanya Allah saja Yang Maha Mengetahui semua rahasia yang tersembunyi itu. Selanjutnya, Rabi’ah mengatakan kepada Hasan al-Bashri, “Aku telah mengajukan empat pertanyaan tentang diriku, bagaiman aku harus bersuami yang kepadanya aku menghabiskan waktuku dengannya?” Dalam penolakannya itu pula, Rabi’ah lalu menyenandungkan sebuah sya’ir yang cukup indah.[11]
Damaiku, wahai saudara-saudaraku,
Dalam kesendirianku,
Dan kekasihku bila selamanya bersamaku,
Karena cintanya itu,
Tak ada duanya,
Dan cintanya itu mengujiku,
Di antara keindahan yang fana ini,
Pada saat aku merenungi Keindahan-Nya,
Dia-lah “mirabku”, Dia-lah “kiblatku”,
Jika aku mati karena cintaku,
Sebelum aku mendapatkan kepuasaanku,
Amboi, alangkah hinanya hidupku di dunia ini,
Oh, pelipur jiwa yang terbakar gairah,
Juangku bila menyatu dengan-Mu telah melipur jiwaku,
Wahai Kebahagiaanku dan Hidupku selamanya,
Engkau-lah sumber hidupku,
Dan dari-Mu jua datang kebahagiaanku,
Telah kutanggalkan semua keindahan fana ini dariku,
Harapku dapat menyatu dengan-Mu,
Karena itulah hidup kutuju.[12]
Bebrapa masalah yang dilontarkan rabi’ah dalam dialog di atas itu termasuk dalam persoalan ghaib yang tidaak bisa diketahui kecuali oleh Allah. Karena itulah, orang-orang yang hadir pada saat itu terdiam. Sesaat kemudian ia berkata, “ Kami sama sekali tidak mengerti apa yang engkau maksudkan, wahai Rabi’ah.”
Jawab Rabi’ah; “Kalau aku berdukacita memikirkan hal-hal tersebut, apakah mungkin aku memerlukan suami. Padahal kenyataannya, bila aku bersuami, sebagian waktuku akan disita olehnya.[13]
Begitulah, meskipun sebagai manusia, Rabi’ah tak pernah tergoda sedikit pun oleh berbagai keindahan dunia fana. Sampai wafatnya, ia hanya lebih memilih Allah sebagai Kekasih sejatinya semata ketimbang harus bercinta dengan sesama manusia.

2.      Zuhud
Ke-zuhud-an Rabi’ah al-Adawiyah Sebagaimana diungkapkan terdahulu, Rabi’ah sejak kecil sudah memiliki karakter yang tidak begitu banyak memperhatikan kehidupan duniawi. Hidupnya sederhana dan sangat besar kehati-hatiannya terhadap makanan apapun yang masuk ke dalam perutnya. Bahkan saking zuhudnya, Rabi’ah sering menolak setiap bantuan yang datang dari para sahabatnya, padahal andai saja ia bersedia menerima pemberian orang lain, tentu dalam waktu sekejap ia akan kaya raya karena banyak sekali baik dari para pedagang atau para hartawan yang ingin membenatu dia, namun mereka selalu kecewa setiap kali menawarkan hadiah atau bantuan kepada Rabi’ah setiap itu juga Rabi’ah menolaknya, dan Rabi’ah malah menyibukkan diri untuk melayani Tuhannya.
Selepas dirinya dari perbudakan, Rabi’ah memilih hidup menyendiri di sebuah gubuk sederhana di kota Basrah tempat kelahirannya. Ia meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup hanya untuk beribadah kepada Allah. Tampaknya, keinginan untuk hidup zuhud dari kehidupan duniawi ini benar-benar ia jalankan secara konsisten.
Aku shalat seakan-akan ini terkahir kalinya, dan pada siang hari aku mengurung diri menjauhi makhluk lainnya, aku takut mereka akan menarikku dari diri-Nya, maka aku katakan, “Ya Tuhan, sibukkanlah hati ini dengan hanya menyebut-Mu, jangan Engkau biarkan mereka menarikku dari-Mu.”
Sebagai seorang zahid, Rabi’ah senantiasa bermunajat kepada Allah agar dihindarkan dari ketergantungannya kepada manusia. Namun, perjalanan zuhud yang dialami Rabi’ah tampaknya tidak mudah begitu saja dilalui. Di depan, banyak tantangan dan cobaan yang harus ia hadapi. Kenyataan-kenyataan itu memang wajar, karena sebagai manusia, tak mungkin dirinya hanya bergantung kepada Allah semata.
Meskipun demikian, Rabi’ah tetap berusaha untuk menghindari apapun bantuan yang datang selain dari Allah, sehingga sekalipun ia hidup dalam kemiskinan (faqr), namun kemiskinannya dianggap sebagai bagian dari kasih sayang Allah kepada Rabi’ah.
Dalam satu kisah misalnya disebutkan, sahabatnya Malik bin Dinar pada suatu waktu mendapati Rabi’ah sedang minum air dar bejana yang pecah, di atas tikar yang telah usang, serta batu bata sebagai bantal di kepalanya. Melihat pemandangan seperti itu, Malik lalu berkata pada Rabi’ah, “Aku memiliki teman-teman yang kaya dan jika engkau membutuhkan bantuan aku akan meminta kepada mereka.” Rabi’ah mengatakan, “Wahai Malik, ucapanmu itu sangat tidak menyenangkan hatiku, dan itu memang ucapan yang salah . yang memberi rizki kawan-kawanmu yang kaya raya itu adalah Allah, yang juga telah memberi rizki kepadaku. Apakah engkau akan mengatakan bahwa hanya orang-orang kaya saja yang memperoleh rizki, sedangkan orang-orang miskin tidak? Jika Allah mentakdirkan kita seperti ini, maka tugas yang perlu kita laksanakan adalah menerimanya dengan tawakkal.”[14]
Sikap zuhud yang ditampilkan Rabi’ah sesungguhnya tiada lain agar ia hanya lebih mencintai Allah ketimbang makhluk-makhluknya. Karena itu, hidup dalam kefakiran baginya bukanlah halangan untuk beribadah dan lebih dekat dengan Tuhannya. Dan, toh, Rabi’ah menganggap bahwa kefakiran adalah suatu takdir, yang karenanya ia harus terima dengan penuh keikhlasan. Kebahagiaan dan penderitaan, demikian menurut Rabi’ah, adalah datang dari Allah. Dan dalam perjalanannya sufistiknya itu, Rabi’ah sendiri telah melaksanakan pesan Rasulullah: “Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada pada manusia, pasti manusia akan mencintaimu.”

Konsep tentang Cinta Rabi’ah
 Cinta Ilahi (al-Hubb al-Ilah) Rabi’ah al-Adawiyah  dalam pandangan kaum sufi memiliki nilai tertinggi. Bahkan kedudukan antara mahabbah dan ma’rifat merupakan kembar dua yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi mengatakan, cinta para sufi dan ma’rifat itu timbul dari pandangan dan pengetahuan mereka tentang cinta abadi dan tanpa pamrih kepada Allah. Cinta itu timbul tanpa ada maksud dan tujuan apa pun.
Rabi’ah mengisyaratkan adanya dua bentuk cinta. Pertama, cinta yang lahir dari kesaksian kepada kemurahan Tuhan dalam bentuk kecukupan hajat hidup insaniyah dan kenikmatan inderawi (Hissiyah) serta kehormatan harga diri (ma’nawiyah), sehingga tiada disangkal jika hati cenderung dan tergirirng untuk mencintai Dzat pemberi kemurahan itu. Cinta seperti inilah yang disebut dengan hubbul-hawa, cinta karena kecenderungan hati.
Kedua, cinta yang lahir dari kesaksian hati kepada kepada adanya kesempurnaan. Jika hijab yang menyelimuti hati seorang hamba dibuka oleh Allah, maka tampaklah oleh hamba tersebut keindahan dan kesempurnaan Tuhan dalam segala hal. Pada saat demikian, secara otomatis lahir rasa cinta yang kokoh seorang hamba kepada Allah.
Cinta kedua inilah yang sesungguhnya paling hakiki, karena seorang hamba tidak lagi melihat seberapa besar Allah memberikan kecukupan hajat hidupnya, melainkan sebuah cinta yang melintasi segala ruang dan waktu serta mengatasi segala keadaan, baik suka maupun duka, baik ketika berkecukupan maupun papa.[15]
Apa yang diajarkan Rabi’ah melalui mahabbah-nya, sebenarnya tak berbeda jauh dengan yang diajarkan Hasan al-Bashri dengan konsep khauf (takut) dan raja’ (harapan). Hanya saja, jika Hasan al-Bahsri mengabdi kepada Allah didasarkan atas ketakutan masuk neraka dan harapan untuk masuk surga, maka mahabbah Rabi’ah justru sebaliknya. Ia mengabdi kepada Allah bukan lantaran takut neraka maupun mengharapkan balasan surga, namun ia mencinta Allah lebih karena Allah semata. Sikap cinta kepada dan karena Allah semata ini misalnya tergambar dalam sya’ir Rabi’ah sebagai berikut:
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu,
karena takut pada neraka,
maka bakarlah aku di dalam neraka.
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga,
campakkanlah aku dari dalam surga.
Tetapi jika aku menyembah-Mu, demi Engkau,
janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu,
yang Abadi kepadaku.[16]

Cinta Rabi’ah kepada Allah sebegitu kuat membelenggu hatinya, sehingga hatinya pun tak mampu untuk berpaling kepada selain Allah. Pernah suatu ketika Rabi’ah ditanya, “Apakah Rabi’ah tidak mencintai Rasul?” Ia menjawab, “Ya, aku sangat mencintainya, tetapi cintaku kepada Pencipta membuat aku berpaling dari mencintai makhluknya.” Rabi’ah juga ditanya tentang eksistensi syetan dan apakah ia membencinya? Ia menjawab, “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong sedikit pun dalam diriku untuk rasa membenci syetan.” Allah adalah teman sekaligus Kekasih dirinya, sehingga ke mana saja Rabi’ah pergi, hanya Allah saja yang ada dalam hatinya. Ia mencintai Allah dengan sesungguh hati dan keimanan. Karena itu, ia sering jadikan Kekasihnya itu sebagai teman bercakap dalam hidup.
Menurut kaum sufi, proses perjalanan ruhani Rabi’ah telah sampai kepada maqam mahabbah dan ma’rifat setelah ia berhasil melewati beberapa tahapan atau maqam. Tahapan-tahapan ini ia lampaui seiring dengan perwujudan Cintanya kepada Tuhan. Tapi pada tahap tertentu, Cinta Rabi’ah kepada Tuhannya seakan masih belum terpuaskan, meski hijab penyaksian telah disibakkan. Oleh karena itu, Rabi’ah tak henti-hentinya memohon kepada Kekasihnya itu agar ia bisa terus mencintai-Nya dan Dia pun Cinta kepadanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya” (QS. 5: 59).
Dalam kegamangannya itu, Rabi’ah tak putus-putusnya berdoa dan bermunajat kepada Allah. Bahkan dalam doanya itu ia berharap agar tetap mencintai Allah hingga Allah memenuhi ruang hatinya. Doanya:
Tuhanku, malam telah berlalu dan
siang segera menampakkan diri.
Aku gelisah apakah amalanku Engkau terima,
hingga aku merasa bahagia,
Ataukah Engkau tolak hingga sehingga aku merasa bersedih,
Demi ke-Maha Kuasaan-Mu, inilah yang akan kulakukan.
Selama Engkau beri aku hayat,
sekiranya Engkau usir dari depan pintu-Mu,
aku tidak akan pergi karena cintaku pada-Mu,
telah memenuhi hatiku.[17]

Cinta bagi Rabi’ah telah mempesonakan dirinya hingga ia telah melupakan segalanya selain Allah. Tapi bagi Rabi’ah, Cinta tentu saja bukan tujuan, tetapi lebih dari itu Cinta adalah jalan keabadian untuk menuju Tuhan sehingga Dia ridla kepada hamba yang mencintai-Nya. Dan dengan jalan Cinta itu pula Rabi’ah berupaya agar Tuhan ridla kepadanya dan kepada amalan-amalan baiknya. Harapan yang lebih jauh dari Cintanya kepada Tuhan tak lain agar Tuhan lebih dekat dengan dirinya, dan kemudian Tuhan sanggup membukakan hijab kebaikan-Nya di dunia dan juga di akhirat kelak. Ia mengatakan, dengan jalan Cinta itu dirinya berharap Tuhan memperlihatkan wajah yang selalu dirindukannya. Dalam sya’irnya Rabi’ah mengatakan:
Aku mencintai-Mu dengan dua macam Cinta,
Cinta rindu dan Cinta karena Engkau layak dicinta,
Dengan Cinta rindu,
kusibukan diriku dengan mengingat-ingat-Mu selalu,
Dan bukan selain-Mu.
Sedangkan Cinta karena Engkau layak dicinta,
di sanalah Kau menyingkap hijab-Mu,
agar aku dapat memandangmu.
sama sekali tiada puji bagiku dalam cinta manapun
Tapi bagi-Mulah segala puji itu.[18]

Selain Rabi’ah al-Adawiyah, sufi lain yang memperkenalkan ajaran mahabbah adalah Maulana Jalaluddin Rumi, sufi penyair yang lahir di Persia tahun 604 H/1207 M dan wafat tahun 672 H/1273 M. Jalaluddin Rumi banyak mengenalkan konsep Mahabbah melalui syai’ir-sya’irnya, terutama dalam Matsnawi dan Diwan-i Syam-I Tabriz. Sepanjang sejarahnya, konsep Cinta Ilahi (Mahabbatullah) yang diperkenalkan Rabi’ah ini telah banyak dibahas oleh berbagai kalangan. Sebab, konsep dan ajaran Cinta Rabi’ah memiliki makna dan hakikat yang terdalam dari sekadar Cinta itu sendiri. Bahkan, menurut kaum sufi, Mahabbatullah tak lain adalah sebuah maqam (stasiun, atau jenjang yang harus dilalui oleh para penempuh jalan Ilahi untuk mencapai ridla Allah dalam beribadah) bahkan puncak dari semua maqam. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali misalnya mengatakan, “Setelah Mahabbatullah, tidak ada lagi maqam, kecuali hanya merupakan buah dari padanya serta mengikuti darinya, seperti rindu (syauq), intim (uns), dan kepuasan hati (ridla)”.
Demikian pula, sebelum mencapai cinta kepada Allah, tidak ada jenjang kecuali hanya sebagai salah satu pendahuluannya saja, seperti taubat, sabar, zuhud, dan lain sebagainya.[19] Rabi’ah telah mencapai puncak dari maqam itu, yakni Mahabbahtullah.

Pengaruh Doktrin dan Ajaran Mahabbah
 Kisah di atas menggambarkan kemuliaan akhlak Rabi’ah al-Adawiyah, seorang sufi wanita yang nama dan ajaran-ajarannya telah memberi inspirasi bagi para pecinta Ilahi. Rabi’ah adalah seorang sufi legendaries. Sejarah hidupnya banyak diungkap oleh berbagai kalangan, baik di dunia sufi maupun akademisi. Rabi’ah adalah salah seorang sufi yang memperkenalkan ajaran Mahabbah (Cinta) Ilahi, sebuah jenjang (maqam) atau tingkatan yang dilalui oleh seorang salik (penempuh jalan Ilahi).
Sesungguhnya peran Rabi’ah al-Adawiyah dalam dunia sufisme sangatlah kuat, sehingga di atas langkah-langkahnya, berjalan seorang tokoh Ibn al-Faridl, serta Al-Hallaj.
Rabi’ah telah membingungkan para tokoh orientalis. Sebab mereka adalah golongan yang selalu mengklaim bahwa tasawuf bukanlah berasal dari Islam, bahwa materi spiritual yang ada pada tasawuf merupakan “pinjaman” dari spiritualitas Yunani. Mereka juga mengklaim bahwa tasawuf adalah hasil adopsi Islam dari konsep agama dan budaya di luar Islam. Menurut mereka Islam adakh agama pedang bukan agama jiwa dan hati, bukan pula agama asketik dan cinta.
Lalu datanglah Rabi’ah al-Adawiyah, seorang wanita bangsa Arab dari kota Basrah yang tumbuh di akhir abad pertama hijriah yang memberikan jawaban terhadap tudingan orang-orang orientalis tentang Islam. Ia memberikan konsep yang sempurna tentang Cinta Ilahi. Konsep Cinta ini merupakan tangga yang diletakkan di bawah kakinya untuk menapak naik ke puncak yang tertinggi.
Islam adalah sebuah kekuatan spiritual yang dimengerti dengan sangat baik oleh kaum orientalis, walaupun mereka mengingkarinya dan menganggap sebagai anacaman. Mereka sangat cemas, apalagi ketika itu materialisme Eropa sudah runtuh dalam berbagai betuk.tidak ada lagi di dunia ini kekuatan yang muncul dengan sinar cerah diawal kebangkitannya yang lebih besar ketimbang potensi spiritualisme Islam.
Rabi’ah adalah perintis kaum sufi yang mengumandangkan cinta murni, cinta yang tidak dibatasi oleh keinginan selain cinta kepada Allah. Rabi’ah telah menjadikan cinta kepada Allah sebagai inti kehidupan, tabi’at kehidupan, dan tujuan hidup yang paling tinggi. Cinta yang mempertautkan hati seorang hamba dengan penciptanya ini adalah inti dari totalitas makrifat dan ilham sufistik. Bahkan sesungguhnya cinta akan memindahkan materi-materi alam secara keseluruhan kepada ruh-ruh yang dapat merasakan dan selalu bertasbih serta mengabdi kepada Allah. Karena sesungguhnya materi-materi tersebut diciptakan dengan cinta, tegak dengan cinta,  bertasbih dengan cinta, serta membisikkan ungkapan, “Sesungguhnya tidak ada sesuatupun kecuali bertasbih dengan memuji-Nya.” (Q.S. al-Isra:44)
Dengan cinta pula alam ini menjadi teratur secara keseluruhan di dalam wilayah spiritual yang indah dan bersinar, kehidupan menjadi suci, indah dan sempurna. Sesungguhnya segala sesuatu yang ada di alam ini berasal dari ketentuan Allah yang terbaik.[20]

Rabi’ah dan menjelang hari kematiannya
Dikisahkan, Rabi’ah telah menjalani masa hidup selama kurang lebih 90 tahun. Dan selama itu, ia hanya mengabdi kepada Allah sebagai Pencipta dirinya, hingga Malaikat Izrail menjemputnya. Tentu saja, Rabi’ah telah menjalani pula masa-masa di mana Allah selalu berada dekat dengannya. Para ulama yang mengenal dekat dengan Rabi’ah mengatakan, kehadiran Rabi’ah di dunia hingga kembalinya ke alam akhirat, tak pernah terbersit sedikit pun adanya keinginan lain kecuali hanya ta’zhim (mengagungkan) kepada Allah. Ia juga bahkan sedikit sekali meminta kepada makhluk ciptaan-Nya.
Kematian Rabi’ah telah membuat semua orang yang mengenalnya hampir tak percaya, bahwa perempuan suci itu akan segera meninggalkan alam fana dan menjumpai Tuhan yang sangat dicintainya. Orang-orang kehilangan Rabi’ah, karena dialah perempuan yang selama hidupnya penuh penderitaan, namun tak pernah bergantung kepada manusia. Setiap orang sudah pasti akan mengenang Rabi’ah, sebagai sufi yang telah berjumpa dengan Tuhannya.
Kini Rabi’ah telah tiada. Penyair kasmaran itu telah meninggalkan  kita semua, perempuan kekasih Ilahi itu meninggal untuk selamanya, dan akan kembali hidup bersama Sang Kekasih di sisi-Nya. Jasad kasarnya hilang ditelan bumi, tetapi ruh sucinya terbang bersama para sufi, para wali, dan para pecinta Ilahi. Namun tapak-tapaknya dalam cinta menuju Allah telah menjadi tonggak terpenting dalam falsafah sufiah tentang cinta Ilahi, dan mempengaruhi penyair sufi sesudahnya seperti Al-Bakhi, at-Tsuri, al-Ghazali, juga mempengaruhi al-Hallaj, as-Syibli, ibn Faridh, dan bahkan al-Aththar, ar-Rumi dan Ibn Arabi.[21]













Daftar Pustaka
Dr. M. Fudoli Zaini, Sepintas Sastra Sufi, Tokoh dan Pemikiranya. Risalah Gusti, Semarang, 2000.

A.J. Siraaj- A.H. Mahmoud. Perawan Suci dari Basrah, Jenjang Sufisme Rabi’ah Adawiyah..Fajar Pustaka Baru; yogyakarta.2007
Jalaludin Rumi, Kisah Keajaiban Cinta; Kreasi Wacana,2001

Abdul Munim Qandil, Rabi’ah al-Adawiyah dan Mabuk Cintanya Kepada Sang Khaliq, Citra Media, Yogyakarta, 2008.

Muhammad Iqbal,The Achievement Of Love: Metode Sufi Meraih Cinta Ilahi, Inisiasi Press, Depok, 2002




[1] Dr. M. Fudoli Zaini, Sepintas Sastra Sufi, Tokoh dan Pemikiranya. Risalah Gusti, Semarang, 2000.
[2] A.J. Siraaj- A.H. Mahmoud. Perawan Suci dari Basrah, Jenjang Sufisme Rabi’ah Adawiyah. Fajar Pustaka Baru; yogyakarta.2007
[3] Abdul Munim Qandil, Rabi’ah al-Adawiyah dan Mabuk Cintanya Kepada Sang Khaliq, Citra Media, Yogyakarta, 2008.
[4] Ibid, hal. 27
[5] Ibid ,hal 36-38
[6] Ibid, hal. 35
[7] Lihat. Perawan Suci dari Basrah, Jenjang Sufisme Rabi’ah Adawiyah. A.J. Siraaj- A.H. Mahmoud.Fajar Pustaka Baru; 2007,hal 14
[8] Ibid, hal 15
[9] Muhammad Iqbal,The Achievement Of Love: Metode Sufi Meraih Cinta Ilahi, Inisiasi Press, Depok, 2002
[10] Lihat, Rabi’ah al-Adawiyah dan Mabuk Cintanya Kepada Sang Khaliq, Abdul Munim Qandil, Citra Media, 2008.hal 84
[11] Ibid,hal,112-113
[12] Lihat, , Sepintas Sastra Sufi, Tokoh dan Pemikiranya. Dr. M. Fudoli Zaini Risalah Gusti, Semarang, 2000.hal, 5
[13] Lihat, Rabi’ah al-Adawiyah dan Mabuk Cintanya Kepada Sang Khaliq, Abdul Munim Qandil, Citra Media, 2008.hal 84


[14] Ibid, hal, 138

[15] Jalaludin Rumi, Kisah Keajaiban Cinta; Kreasi Wacana,2001
[16] Dr. M. Fudoli Zaini, Sepintas Sastra Sufi, Tokoh dan Pemikiranya. Risalah Gusti, Semarang, 2000.

[17] Abdul Munim Qandil, Rabi’ah al-Adawiyah dan Mabuk Cintanya Kepada Sang Khaliq, Citra Media, Yogyakarta, 2008.
[18] Jalaludin Rumi, Kisah Keajaiban Cinta; Kreasi Wacana,2001

[19] Lihat: Perawan Suci dari Basrah, Jenjang Sufisme Rabi’ah Adawiyah. A.J. Siraaj- A.H. Mahmoud.Fajar Pustaka Baru; yogyakarta.2007, hal.115
[20] Ibid,hal 169-173
[21] Lihat, Dr. M. Fudoli Zaini, Sepintas Sastra Sufi, Tokoh dan Pemikiranya. Risalah Gusti, Semarang, 2000.hal.10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar