Minggu, 10 Juni 2012

MU"AWIYAH BIN ABI SOFYAN


 
           MUAWIYYAH BIN ABI SUFYAN

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
            Hampir semua sejarawan membagi Dinasti Umayah ( Umawiyah ) menjadi dua, yaitu pertama, Dinasti Umayah yang dirintis dan didirikan oleh Muawiyah Ibn Abu Sufyan yang berpusat di Damaskus (Siria). Fase ini berlangsung sekitar satu abad dan mengubah sistem pemerintahan dari sistem khilafah pada sistem mamlakat (kerajaan atau monarki) dan kedua, Dinasti Umayah di Andalusia (Siberia) yang pada awalnya merupakan wilayah taklukan Umayah di bawah pimpinan seorang gubernur pada zaman walid  Ibn Abd Al-Malik; kemudian diubah menjadi kerajaan yang terpisah dari kekuasaan Dinasti Bani Abbas setelah berhasil menaklukan Dinasti Umayah di Damaskus.
            Perintisan Dinasti Umayah dilakukan oleh Mu’awiyah dengan cara menolak membai’at Ali, berperang melawan Ali, dan melakukan perdamaian (tahkim) dengan pihak Ali yang secara politik sangat menguntungkan muawiyah.[1]
            Di samping itu masih ada keuntungan lain yang didapatkan oleh Mu’awiyah yaitu ketika, keberhasilan pihak Khawarij membunuh khlifah Ali r.a.  Setelah Khalifah Ali wafat, maka jabatannya dipegang oleh putranya, Hasan ibn Ali selama beberapa bulan. Namun karena tidak didukung oleh pasukan yang kuat, sementara pada waktu itu Mu’awiyah semakin kuat maka, akhirnya  melakukan perjanjian dengan Hasan ibn ali. Isi perjanjian itu adalah bahwa pergantian pemimpin akan diserahkan kepada umat Islam setelah  masa Mu’awiyah berakhir. Perjanjain ini dibuat pada tahun 661 M  (41 H) dan tahun tersebut disebut am jama’ah karena perjanjian ini mempersatukan umat Islam kembali menjadi satu kepemimpinan politik, yaitu Mu’awiyah dan Mu’awiyah mengubah system khilafah menjadi kerajaan.
            Ketika perjanjian itu dibuat, umat Islam telah bersentuhan dengan peradaban Persia dan Bizantium. Dengan begitu Mu’awiyah bermaksud meniru cara suksesi kepemimpinan yang ada di Persia yaitu, monarki (a form of government with a monarch at the head)[2], walaupun gelar pemimpin pusat tidak disebut raja. Mu’awiyah tetap menggunakan gelar khalifah dengan makna konotatif yang diperbaharui. Perbedaannya adalah, jika pada zaman khalifah empat, khalifah yang dimaksudkan adalah khalifah Rasul SAW adalah pemimpin masyarakat. Sedangkan, pada zaman Bani Umayah khalifah yang dimaksudkan adalah khalifah Allah adalah pemimpin atau penguasa yang diangkat oleh Allah.  Sebagai langkah awal mereka mengangkat atau menjadikan Yazid ibn Mu’awiyah sebagai putra mahkota (tahun 53 H.).[3]
            Dari latar belakng masalah diatas penulis akan mencoba membahas seputar pemerintahan pada masa Bani Umayyah dengan beberapa rumusan masalah di bawah ini.

Rumusan Masalah
1.      Bentuk Pemerintahan Umayah
2.      Ekspansi Pada Masa Umayah 
3.      Perkembangan Islam di Spanyol (Andalus)
4.      Kemajuan yang didapat oleh Islam

Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembahasan ini adalah agar kita bisa lebih mengenal tentang perkembangan Islam pada masa pemerintahan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan serta lebih memudahkan kita untuk mempelajari lebih jauh lagi, sehingga dalam proses mempelajarinya kita tidak menemukan kesulitan.


BAB II
PEMBAHASAN

     A.    Bentuk Pemerintahan Umayah
Memasuki masa kekuasaan Mu’awiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayah, pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi monachiheridetis (kerajaan turun temurun).  Kekhalifahan Mu’awiyah diperolh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun temurun dimulai ketika Mu’awiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid.  Mu’awiyah bermaksud mncontoh monarchi di Persia dan Bizantium. Dia memang tetap menggunakan istilah khalifah, namun dia memberikan interpretasi baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan tersebut. Dia menyebutnya “Khalifah Allah” dalam pengertian “penguasa” yang diangkat oleh Allah.[4]
Dengan berubahnya sistem kekhalifahan menjadi kerajaan, maka terdapat perbedaan yang mencolok. Jika dalam  sistem kekhalifahan pada dasarnya mengikuti jejak Rasulullah SAW., mereka memecahkan berbagai masalah atas dasar musyawarah para ahlul-halli wal’aqdi, dan pemilihan seorang khalifah dib antara mereka yang dipandang paling tepat dan cakap. Maka berbeda halnya dengan sistem kerajaan yang dianut Mu’awiyah, ia tak ubahnya seperti raja-raja Persia dan Romawi sebelumnya yang memaksakan pendapatnya kepada rakyat dan mewariskan kekuasaannya kepada anak keturunan dan kaum kerabat sekalipun mereka tidak cakap. Semua itulah yang dilakukan oleh Mu’awiyah.
Salah satu contoh yang menggambarkan kekhalifahan ialah apa yang pernah dikatakan oleh seorang Arab Badui kepada khalifah Umar: “kalau kami melihat engkau berbuat serong, engkau akan kami luruskan dengan pedang kami” dan  salah satu contoh yang menggambarkan kerajaan ialah apa yang dikatakan  Abdul Malik bin Marwan kepada rakyatnya: “siapa yang berani berkata begini dan begitu, akan kami jawab dengan pedang kami, begini!”.  Memang benar, Mu’awiyah meraih kekuasaan dengan jalan kekerasan  dan kemenangan, bukan melalui pemilihan, karena itu ia menjalankan pemerintahan atas dasar penindasan.[5]
Khalifah Mu’awiyah mendirikan suatu pemerintahan yang terorganisasi dengan baik. Setelah terjadi berbagai kekacauan yang disertai dengan munculnya berbagai anarkisme dan ketidakdisiplinan kaum Nomad yang tidak lagi dikendalikan oleh ikatan agama, menyebabkan ketidakstabilan di mana-mana dan hilangnya kesatuan, selain itu ikatan teokrasi yang telah mempersatukan kekhalifahan yang lebih dulu, tanpa dapat dihindari telah dihancurkan oleh pembunuhan Utsman, oleh perang saudara sebagai akibatnya, dan oleh pemindahan ibukota dari Madinah. Oligarki di Mekkah dikalahkan dan dicemarkan. Maka, Mu’awiyah mencoba,  mencari suatu dasar yang baru bagi kepaduan imperium. Di antaranya adalah, dia mengubah kedaulatan agama menmjadi Negara sekuler. Sekalipun demikian unsur agama di dalam pemerintah dan pemerintahan tidak hilang sama sekali. Mu’awiyah tetap mematuhi formalitas agama dan kadang-kadang menunjukkan dirinya sebagai pejuang islam.  
Selain merubah kedaulatan agama, Mu’awiyah juga melaksanakan perubahan-perubahan besar di dalam pemerintahannya yakrni, angkatan daratnya yang sangat kuat dan efisien. Dia mempunyai pasukan yang selalu taat dan setia, yang tetap berdiri di sampingnya dalam keadaan yang paling berbahaya sekalipun. Mua’awiyah berusaha mendirikan pemerintahan yang stabil menurut garis-garis pemerintahan Bizantium.
Dalam administrasi, Mu’awiyah dikenal merupakan orang pertama di dalam islam yang mendirikan suatu departemen pencatatan (diwanulkahatam). Setiap perturan yang dikeluarkan oleh khalifah harus disalin di dalam suatu register, kemudin yang asli harus disegel dan dikirimkan ke alamat yang dituju. Mu’awiyah juga berhasil mengubah system administrsi pemerintahan menjadi bercorak Arab dan tidak lagi membutuhkan pegawai-pegawai asing yang pada mulanya dibutuhka. Kemudian ia juga berhasil mencetak mata uang sendiri. Dalam masa yang agak panjang ummat islam dalam muammalat sehari-hari selalu menggunakan mata uang Romawi dan Persia. Setelah kehidupan menjadi stabil, mereka mulai membuat mata uang sendiri.
Selain diwanulkahatam, Mu’awiyah juga memperkenalkan diwanulbarid (pelayanan pas). Tugasnya kepala pas adalah memberitahu pemerintah pusat tentang apa yang terjadi di dalam pemerintahan provinsi. Dengan cara ini, Mu’awiyah, melaksanakan kekuasaan pemerintah pusat. Dia membentuk dua secretariat imperium (pusat) yang medianya bahasa Arab, dan secretariat provinsi yang menggunakan bahasa Yunani dan bahasa Persia. Sebagai seorang administrator yang berpandangan jauh, Mu’awiyah memisahkan urusan keuangan dengan dari urusan pemerintahan. Akan tetapi, untuk memungut pajak, di masing-masing provinsi, dia mengangkat seorang pejabat khusus dengan gelar shahibulkharaj, yang diangkat oleh khalifah dan terpisah atau tidak terkait dengan gubernur. Justru dalam masalah keuangan gubernur harus menggantungkan dirinya pada sahibulkharaj. Demikianlah Mu’awiyah mengembangkan suatu keadaan yang teratur dari kekacauan.[6]
Betapapun hebatnya pertikaian yang terjadi di kalangan kaum muslimin, Mu’awiyah dan dinastinya yang terdiri dari orang-orang Bani Umayyah ternyata sanggup mengatasinya dengan berbagai cara, kemudian mendirikan suatu imperium yang amat luas wilayah kekuasaannya, penuh dengan menara-menara masjid yang menjulang tinggi di angkasa yang mengumandangkan suara adzan menggema di udara menandakan semakin luasnya wilayah dunia islam.[7]

         B.     Ekspansi Pada Masa Umayah  
Secara umum, penaklukan pemerintahan Bani Umayah, meliputi tiga wilayah. Pertama, melawan pasukan Romawi di Asia Kecil. Penaklukan ini sampai dengan pengepungan Konstantinopel  dan beberapa kepulauan di Laut Tengah. Kedua, wilayah Afrika Utara. Penaklukan ini sampai ke Samudra Atlantik dan menyebrang ke Gunung Thariq hingga ke Spanyol. Ketiga, wilayah timur. Penaklukan ini sampai ke sebelah timur Irak. Kemudian, meluas kewilayah Turkistan di utara, serta ke wilayah sindh di bagian selatan.[8]
Ekspansi yang terhenti pada masa khalifah Usman dan Ali dilanjutkan kembali oleh dinasti ini. Di zaman Mu’awiyah, Tunisia dapat ditaklukan. Di sebelah timur, Mu’awiyah dapat menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan serangan-serangan ke ibukota Bizantium, Konstantinopel. Ekspansi ke timur yang dilakukan Mu’awiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abd Al-Malik. Dia mengirim tentara yang menyebrangi sungai Oxus dan berhasil menaklukan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana, dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan dapat menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan.
Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan dib zaman al-Walid ibn Abdul Malik   Masa pemerintahan Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran, dan ketertiban. Umat islam merasa bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. setelah al-Jazair dan Maroko dapat ditaklukan, Tariq bin Ziyad, pemimpin pasukan islam, dengan pasukannya menyebrangi selat yang memisahkan antara Maroko dengan , benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Tariq). Tentara Spanyol dapat ditaklukan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibukota Spanyol, Kordova dengan cepat dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Sevile, Elvira, dan Toledo yang dijadikan ibukota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Kordova. 
Di zaman Umar ibn Abd al-Aziz, serangan dilakukan ke Perancis melalui pegunungan Piranee. Serangan ini dipimpin oleh Abd al-Rahman ibn Abdullah al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeau, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours. Di samping daerah-daerah tersebut, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah juga jatuh ke tangan islam pada zaman bani Umayah ini.
Meskipun banyak sekali keberhasilan dicapai oleh dinasti ini, baik dalam penyusunan system administrasi kepemerintahan, maupun dalam memperluas wilayah kekuasaan, namun tidak berarti bahwa politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Karena Mu’awiyah tidak mentaati perjanjiannya dengan Hasan ibn Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian pemimpin setelah Mu’awiyah diserahkan kepada pemilihan umat islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-g erakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.
Dari pengangkatan Yazid sebagai putra mahkota itu, sejumlah tokoh di Madinah yang tidak menyatakan setia kepadanya. Yazid kemudian mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husein ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair. Maka, bersamaan dengan itu, Syi’ah (pengikut Ali) melakukan konsolidasi (penggabungan) kekuatan kembali. Maka dimulailah perlawanan kepada Bani Umayyah oleh Husen ibn Ali yaitu pada tahun 680M. Namun pada akhirnya Husen ibn Ali terbunuh. Walaupun begitu perlawanan orang-orang Syi’ah tidak pernah padam, bahkan lebih keras dan gigih. Banyak pemberontakan di beberapa tempat yang dipelopori oleh kaum Syi’ah.
Abdulloh ibn Zubair pun membina gerakan oposisinya setelah ia menolak sumpah setia terhadap Yazid. Dia menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah Husen ibn ali terbunuh. Ketika Yazid menyerang kota Mekkah maka, terjadilah peperangan antara pasukan Yazid dan Abdulloh ibn zubair. Akhirnya perang berhenti karena Yazid terbunuh, dan pasukan Bani Umayyah kembali ke Damaskus. Gerakan Abdullo ibn Zubair baru bisa dihancurkan pada masa kekhalifahan abd al-Malik.
Hubungan pemerintah dengan golongan oposisi membaik pada masa pemerintah khalifah Umar ibn al-Aziz (717-720). Ketika dinobatkan sebagai khalifah, dia menyatakan bahwa memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah islam lebih baik dari pada menambah perluasannya. Ini berarti bahwa prioritas utama adalah pembangunan dalam negeri. Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat, dia berhasil menjalin hubungan baik dengan golongan Syi’ah. Dia juga memberi kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya. Pajak diperingan. Kedudukan mawali disejajarkan dengan muslim arab.[9]

C.    Perkembangan Islam di Spanyol (Andalus)

Perkembangan Islam di Spanyol yang berlangsung lebih dari tujuh setengah abad, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Sejarah panjang yang dilalui Umat Islam di Spanyol ini dapat dibagi menjadi enam periode, dimana tiap periode mempunyai corak pemerintahan dan dinamika masyarakat tersendiri. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Masa itu berlangsung lebih dari tujuh setengah abad sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol, itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu :

Periode Pertama (711-755 M)

Pada periode ini Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elite penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Disamping itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairwan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini.
Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat. Perbedaan pandangan politik itu menyebabkan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama, antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Di dalam etnis Arab sendiri terdapat dua golongan yang terus-menerus bersaing, yaitu suku Quraisy (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini seringkali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu yang agak lama.
Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah mau tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir Islam dari bumi Spanyol. Karena seringnya terjadi konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdurrahman al-Dakhil ke Spanyol pada tahun 138 H/755 M.[10]

Periode Kedua (755-912 M)

Pada periode ini. Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M dan diberi gelar Al-Dakhil (Yang Masuk ke Spanyol). Dia adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbas ketika yang terakhir ini berhasil menaklukkan Bani Umayyah di Damaskus. Selanjutnya, ia berhasil mendirikan dinasti Bani Umayyah di Spanyol. Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah Abdurrahman al-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abdurrahman al-Ausath, Muhammad ibn Abdurrahman, Munzir ibn Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Abdurrahman al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam I dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam, dan Hakam I dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abdurrahman al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat juga mulai masuk pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman al-Aushath. Ia mengundang para ahli dari dunia Islam lainnya untuk datang ke Spanyol sehingga kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol mulai semarak.
Gangguan politik yang paling serius pada periode ini datang dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Disamping itu sejumlah orang yang tak puas membangkitkan revolusi. Yang terpenting diantaranya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusat di pegunungan dekat Malaga. Sementara itu, perselisihan antara orang-orang Barbar dan orang-orang Arab masih sering terjadi.

Periode Ketiga (912-1013 M)

Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar An-Nasir sampai munculnya "raja- raja kelompok" yang dikenal dengan sebutan Muluk al-Thawaij. Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah, penggunaan gelar khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa Al-Muktadir, Khalifah daulat Bani Abbas di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Menurut penilaiannya, keadaan ini menunjukkan bahwa suasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang paling tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Karena itulah, gelar ini dipakai mulai tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang, yaitu Abdurrahman al-Nashir (912-961 M), Hakam II (961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M).
Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad. Abdurrahman al-Nashir mendirikan universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat.
Awal dari kehancuran khilafah Bani Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu kekuasaan aktual berada di tangan para pejabat. Pada tahun 981 M, Khalifah menunjuk Ibn Abi Amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang yang ambisius yang berhasil menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaan Islam dengan menyingkirkan rekan-rekan dan saingan-saingannya. Atas keberhasilan-keberhasilannya, ia mendapat gelar al-Manshur Billah. Ia wafat pada tahun 1002 M dan digantikan oleh anaknya al-Muzaffar yang masih dapat mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah wafat pada tahun 1008 M, ia digantikan oleh adiknya yang tidak memiliki kualitas bagi jabatan itu. Dalam beberapa tahun saja, negara yang tadinya makmur dilanda kekacauan dan akhirnya kehancuran total. Pada tahun 1009 M khalifah mengundurkan diri. Beberapa orang yang dicoba untuk menduduki jabatan itu tidak ada yang sanggup memperbaiki keadaan. Akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu, Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.[11]

Periode Keempat (1013-1086 M)

Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville. Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada diantara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana lain.

Periode Kelima (1086-1248 M)

Pada periode ini Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan daulah Murabithun (860-1143 M) dan daulah Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan politik yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakisy. Ia masuk ke Spanyol atas "undangan" penguasa-penguasa Islam di sana yang tengah memikul beban berat perjuangan mempertahankan negeri-negerinya dari serangan-serangan orang-orang Kristen. Ia dan tentaranya memasuki Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia.
Karena perpecahan di kalangan raja-raja muslim, Yusuf melangkah lebih jauh untuk menguasai Spanyol dan ia berhasil untuk itu. Akan tetapi, penguasa-penguasa sesudah ibn Tasyfin adalah raja-raja yang lemah. Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini berakhir, baik di Afrika Utara maupun di Spanyol dan digantikan oleh daulah Muwahhidun. Pada masa daulah Murabithun, Saragossa jatuh ke tangan Kristen, tepatnya tahun 1118 M. Di Spanyol sendiri, sepeninggal dinasti ini, pada mulanya muncul kembali dinasti-dinasti kecil, tapi hanya berlangsung tiga tahun. Pada tahun 1146 M penguasa dinasti Muwahhidun yang berpusat di Afrika Utara merebut daerah ini. Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibn Tumart (w. 1128). Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abdul Mun'im. Antara tahun 1114 dan 1154 M, kota-kota muslim penting, Cordova, Almeria, dan Granada, jatuh ke bawah kekuasaannya.
Untuk jangka beberapa dekade, daulah ini mengalami banyak kemajuan. Kekuatan-kekuatan Kristen dapat dipukul mundur. Akan tetapi tidak lama setelah itu, Muwahhidun mengalami keambrukan. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan penguasanya memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara tahun 1235 M. Keadaan Spanyol kembali runyam, berada di bawah penguasa-penguasa kecil. Dalam kondisi demikian, umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen yang semakin besar. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh tahun 1248 M. Seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuatan Islam.

Periode Keenam (1248-1492 M)

Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman an-Nashir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha merampas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa'ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdinand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta.

Tentu saja, Ferdinand dan Isabella yang mempersatukan dua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup merasa puas. Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdinand dan Isabella, kemudian hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M. Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini

Kemajuan Peradaban

Umat Islam di Spanyol telah mencapai kejayaan yang gemilang, banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan juga dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, terutama dalam hal kemajuan intelektual. Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa, dan kemudian dunia, kepada kemajuan yang lebih kompleks.

1.      Kemajuan Intelektual

Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara), al-Shaqalibah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan Kebangkitan Ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol.

a. Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M).
Atas inisiatif al-Hakam (961-976 M), karya-karya ilmiah dan filosofis diimpor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin dinasti Bani Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Dilahirkan di Saragossa, ia pindah ke Sevilla dan Granada. Meninggal karena keracunan di Fezzan tahun 1138 M dalam usia yang masih muda. Seperti al-Farabi dan Ibn Sina di Timur, masalah yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Magnum opusnya adalah Tadbir al-Mutawahhid. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil di sebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M. Ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan.
Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rusyd dari Cordova. Ia lahir tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama. Dia juga ahli fiqh dengan karyanya Bidayatul- Mujtahid.

b. Sains
IImu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Famas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Ummul Hasan binti Abi Ja'far dan saudara perempuan al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal, Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia dan Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudera Pasai dan Cina. Ibnul Khatib (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunisia adalah perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol, yang kemudian pindah ke Afrika. Itulah sebagian nama-nama besar dalam bidang sains.

c. Fiqh
Dalam bidang fiqh, Spanyol Islam dikenal sebagai penganut madzhab Maliki. Yang memperkenalkan madzhab ini di sana adalah Ziyad ibn Abdurrahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa Hisyam Ibn Abdurrahman. Ahli-ahli Fiqh lainnya diantaranya adalah Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa'id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.[12]

d. Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan suara, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan Ibn Nafi' yang dijuluki Zaryab. Setiap kali diselenggarkan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya. Ia juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu yang dimiliknya itu diturunkan kepada anak-anaknya baik pria maupun wanita, dan juga kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.

e. Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non-Islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menomor-duakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa. Mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, Ibn Malik pengarang Aljiyah, Ibn Khuruf, Ibnul-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Ghamathi. Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra bermunculan, seperti Al-'Iqd al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhirahji Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, Kitab al-Qalaid buah karya al-Fath ibn Khaqan, dan banyak lagi yang lain.[13]

 

     2.  Kemegahan Pembangunan Fisik

Aspek-aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian ummat Islam sangat banyak. Dalam perdagangan, jalan-jalan dan pasar-pasar dibangun. Bidang pertanian demikian juga. Sistem irigasi baru diperkenalkan kepada masyarakat Spanyol yang tidak mengenal sebelumnya. Dam-dam, kanal-kanal, saluran sekunder, tersier, dan jembatan-jembatan air didirikan. Tempat-tempat yang tinggi, dengan begitu, juga mendapat jatah air.
Orang-orang Arab memperkenalkan pengaturan hidrolik untuk tujuan irigasi. Kalau dam digunakan untuk mengecek curah air, waduk (kolam) dibuat untuk konservasi (penyimpanan air). Pengaturan hydrolik itu dibangun dengan memperkenalkan roda air (water wheel) asal Persia yang dinamakan naurah (Spanyol: Noria). Disamping itu, orang-orang Islam juga memperkenalkan pertanian padi, perkebunan jeruk, kebun-kebun dan taman-taman.
Industri, disamping pertanian dan perdagangan, juga merupakan tulang punggung ekonomi Spanyol Islam. Diantaranya adalah tekstil, kayu, kulit, logam, dan industri barang-barang tembikar. Namun demikian, pembangunan-pembangunan fisik yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung, seperti pembangunan kota, istana, masjid, pemukiman, dan taman-taman. Diantara pembangunan yang megah adalah masjid Cordova, kota az-Zahra, Istana Ja'fariyah di Saragosa, tembok Toledo, istana al-Makmun, masjid Seville, dan istana al-Hamra di Granada.

Faktor-faktor Pendukung Kemajuan

Spanyol Islam, kemajuannya sangat ditentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abdurrahman al-Dakhil, Abdurrahman al-Wasith dan Abdurrahman an-Nashir. Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya yang memelopori kegiatan-kegiatan ilmiah yang terpenting diantara penguasa dinasti Umayyah di Spanyol dalam hal ini adalah Muhammad ibn Abdurrahman (852-886M) dan al-Hakam II al-Muntashir (961-976M).
Toleransi beragama ditegakkan oleh para penguasa terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi, sehingga mereka ikut berpartisipasi mewujudkan peradaban Arab Islam di Spanyol. Untuk orang-orang Kristen, sebagaimana juga orang-orang Yahudi, disediakan hakim khusus yang menangani masalah sesuai dengan ajaran agama mereka masing-masing. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk, terdiri dari berbagai komunitas, baik agama maupun bangsa. Dengan ditegakkannya toleransi beragama, komunitas-komunitas itu dapat bekerja sama dan menyumbangkan kelebihannya masing masing.
Meskipun ada persaingan yang sengit antara Abbasiyyah di Baghdad dan Umayyah di Spanyol, hubungan budaya dari Timur dan Barat tidak selalu berupa peperangan. Sejak abad ke-11 M dan seterusnya, banyak sarjana mengadakan perjalanan dari ujung barat wilayah Islam ke ujung timur, sambil membawa buku-buku dan gagasan-gagasan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun umat Islam terpecah dalam beberapa kesatuan politik, terdapat apa yang disebut kesatuan budaya dunia Islam.
Perpecahan politik pada masa Muluk ath-Thawa'if dan sesudahnya tidak menyebabkan mundurnya peradaban. Masa itu, bahkan merupakan puncak kemajuan ilmu pengetahuan, kesenian, dan kebudayaan Spanyol Islam. Setiap dinasti (raja) di Malaga, Toledo, Sevilla, Granada, dan lain-lain berusaha menyaingi Cordova. Kalau sebelumnya Cordova merupakan satu-satunya pusat ilmu dan peradaban Islam di Spanyol, Muluk ath-Thawa'if berhasil mendirikan pusat-pusat peradaban baru yang diantaranya justru lebih maju.

Faktor Penyebab Kehancuran Bani Umayyah
Ada beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain adalah:
Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi'ah (para pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu, sebagian besar golongan mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas karena status mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.
Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Disamping itu, golongan agama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.
Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi'ah, dan kaum mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.

Kesimpulan
 Ø  Perkembangan administrasi negara pada masa Umayyah, berbeda dengan masa Khulafa al-Rasyidin, pada masa Khulafa al-Rasyidin pimpinan di bagi kepada dua pimpinan pusat disebut dengan Khalifah dan pimpinan wilayah disebut Amir atau Wali. Sedangkan pada masa Umayyah diangkat seorang Amir al-Umara (Gubernur Jenderal) yang membawahi beberapa Amir atau Wali sebagai penguasa wilayah. Pada masa itu pimpinan dibagi kepada tiga, yaitu pimpinan pusat, disebut Khalifah, pimpinan wilayah disebut Amir atau Wali, dan pimpinan yang membawahi Amir disebut Amir al-Umara.
 Ø  Dilakukannya gerakan Arabisme.
 Ø  Penetapan bahasa resmi Bani Umayyah adalah Bahasa Arab.
 Ø  Membentuk empat departemen dalam mengatur jalannya pemerintahan;
-       Diwan Al-Kharaj (Departemen Perpajakan Tanah)
-       Diwan Al-Khatam (Departemen yang bertugas merancang ordonansi pemerintah)
-       Diwan Al-Rasail (Departemen Surat Menyurat)
-       Diwan Al-Mustagallat (Departemen Perpajakan Umum).
Ø  Pembagian kelas masyarakat yang beragama Islam, dan kelas masyarakat yang non muslim. Adapun kelas masyarakat yang berdasarkan agama Islam (mereka disebut mawalli, warga kelas dua inferior), dan masyarakat non muslim yang juga dibedakan kepada dua; pertama, non muslim yang dilindungi (Ahl Al-Dzimmat), kedua, non muslim yang dijamin keagamaannya (Al-Musta’min).
 Ø  Penyempurnaan penulisan al-Quran.
 Ø  Penulisan hadist.
 Ø  Munculnya aliran theology.
 Ø  Dibangunnya Madrasah Hasan al-Bashri.
 Ø  Aliran fiqih al-Quran yang telah dikodifikasikan pada masa Abu Bakar dan Utsman ibn Affan ditulis tanpa titik dan tanpa baris, sehingga tidak bisa menentukan huruf dan bunyi bacaan di sempurnakan oleh Hasan al-Bashri atas perintah Abd al-Malik ibn Marwan kepada al-Hajaj.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain adalah:
1.         Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru (bid’ah) bagi tradisi Islam yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidak jelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
2.         Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi'ah (para pengikut Abdullah bin Saba’ al-Yahudi) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3.         Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu, sebagian besar golongan mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas karena status mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.
4.         Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Disamping itu, para Ulama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.
5.         Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan dan kaum mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah. Wallahul Musta,’an.


Daftar Pustaka


1.        Yatim, Badri. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
2.        Mubarok, Jaih. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pusaka Islamika.
3.         Supriadi Dedi, 2008. Sejarah Peradaban Islam, Penerbit, Pustaka setia
4.        Al-Bidaayah Wan Nihaayah, Ibn Katsir.
5.        Sejarah Bani Umayyah, Muhammad Syu'ub, Penerbit PT.Bulan Bintang.
6.        iFinger, The NEW OXFORD Dictionary of ENGLISH,  Oxford University Press 2001
7.        Wikipedia, bani umayyah tgl 30 oktober,2010
Ahmad Amin, Islam dari Masa ke Masa, Rosda Karya, Bandung,


[1] Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit, Pustaka setia, 2008.hal, 103
[2] iFinger, The NEW OXFORD Dictionary of ENGLISH,  Oxford University Press 2001
[3] Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit, Pustaka setia, 2008.hal 104
[4] Dr. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal, 42
[5] Ahmad Amin, Islam dai Masa ke Masa, Rosda Karya, Bandung, hal, 99-100
[6] Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit, Pustaka setia, 2008.hal,105
[7] Ahmad Amin, Islam dai Masa ke Masa, Rosda Karya, Bandung, hal, 99
[8] Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit, Pustaka setia, 2008.hal,106
[9] Dr. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal,44-47
[10] Dr. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal,93-94
[11] Wikipedia, bani umayyah tgl 30 oktober,2010
[12] Dr.Jaih Mubarak.Sejarah Perdaban Islam,Pustaka Bani Quraisy,2005.hal,112
[13] Dr.Jaih Mubarak.Sejarah Perdaban Islam,Pustaka Bani Quraisy,2005.hal,111-112

Tidak ada komentar:

Posting Komentar