MUAWIYYAH
BIN ABI SUFYAN
BAB
I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang Masalah
Hampir
semua sejarawan membagi Dinasti Umayah ( Umawiyah ) menjadi dua, yaitu pertama, Dinasti Umayah yang dirintis
dan didirikan oleh Muawiyah Ibn Abu Sufyan yang berpusat di Damaskus (Siria).
Fase ini berlangsung sekitar satu abad dan mengubah sistem pemerintahan dari sistem
khilafah pada sistem mamlakat (kerajaan atau monarki) dan kedua, Dinasti Umayah di Andalusia
(Siberia) yang pada awalnya merupakan wilayah taklukan Umayah di bawah pimpinan
seorang gubernur pada zaman walid Ibn
Abd Al-Malik; kemudian diubah menjadi kerajaan yang terpisah dari kekuasaan
Dinasti Bani Abbas setelah berhasil menaklukan Dinasti Umayah di Damaskus.
Perintisan
Dinasti Umayah dilakukan oleh Mu’awiyah dengan cara menolak membai’at Ali,
berperang melawan Ali, dan melakukan perdamaian (tahkim) dengan pihak Ali yang secara politik sangat menguntungkan
muawiyah.[1]
Di
samping itu masih ada keuntungan lain yang didapatkan oleh Mu’awiyah yaitu
ketika, keberhasilan pihak Khawarij membunuh khlifah Ali r.a. Setelah Khalifah Ali wafat, maka jabatannya
dipegang oleh putranya, Hasan ibn Ali selama beberapa bulan. Namun karena tidak
didukung oleh pasukan yang kuat, sementara pada waktu itu Mu’awiyah semakin
kuat maka, akhirnya melakukan perjanjian
dengan Hasan ibn ali. Isi perjanjian itu adalah bahwa pergantian pemimpin akan
diserahkan kepada umat Islam setelah
masa Mu’awiyah berakhir. Perjanjain ini dibuat pada tahun 661 M (41 H) dan tahun tersebut disebut am jama’ah karena perjanjian ini
mempersatukan umat Islam kembali menjadi satu kepemimpinan politik, yaitu Mu’awiyah
dan Mu’awiyah mengubah system khilafah menjadi kerajaan.
Ketika
perjanjian itu dibuat, umat Islam telah bersentuhan dengan peradaban Persia dan
Bizantium. Dengan begitu Mu’awiyah bermaksud meniru cara suksesi kepemimpinan
yang ada di Persia yaitu, monarki (a form of government with a
monarch at the head)[2],
walaupun gelar pemimpin pusat tidak disebut raja. Mu’awiyah tetap menggunakan
gelar khalifah dengan makna konotatif yang diperbaharui. Perbedaannya adalah,
jika pada zaman khalifah empat, khalifah yang dimaksudkan adalah khalifah Rasul
SAW adalah pemimpin masyarakat. Sedangkan, pada zaman Bani Umayah khalifah yang
dimaksudkan adalah khalifah Allah adalah pemimpin atau penguasa yang diangkat
oleh Allah. Sebagai langkah awal mereka
mengangkat atau menjadikan Yazid ibn Mu’awiyah sebagai putra mahkota (tahun 53
H.).[3]
Dari
latar belakng masalah diatas penulis akan mencoba membahas seputar pemerintahan
pada masa Bani Umayyah dengan beberapa rumusan masalah di bawah ini.
Rumusan
Masalah
1. Bentuk
Pemerintahan Umayah
2.
Ekspansi Pada Masa Umayah
3. Perkembangan Islam di Spanyol (Andalus)
4. Kemajuan yang didapat oleh Islam
Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembahasan ini adalah agar kita bisa
lebih mengenal tentang perkembangan Islam pada masa pemerintahan Mu’awiyyah bin
Abi Sufyan serta lebih memudahkan kita untuk mempelajari lebih jauh lagi,
sehingga dalam proses mempelajarinya kita tidak menemukan kesulitan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Bentuk
Pemerintahan Umayah
Memasuki masa
kekuasaan Mu’awiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayah, pemerintahan yang
bersifat demokratis berubah menjadi monachiheridetis
(kerajaan turun temurun). Kekhalifahan
Mu’awiyah diperolh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan
pemilihan atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun temurun
dimulai ketika Mu’awiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia
terhadap anaknya, Yazid. Mu’awiyah
bermaksud mncontoh monarchi di Persia
dan Bizantium. Dia memang tetap menggunakan istilah khalifah, namun dia
memberikan interpretasi baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan
tersebut. Dia menyebutnya “Khalifah Allah” dalam pengertian “penguasa” yang
diangkat oleh Allah.[4]
Dengan
berubahnya sistem kekhalifahan menjadi kerajaan, maka terdapat perbedaan yang
mencolok. Jika dalam sistem kekhalifahan
pada dasarnya mengikuti jejak Rasulullah SAW., mereka memecahkan berbagai masalah
atas dasar musyawarah para ahlul-halli
wal’aqdi, dan pemilihan seorang khalifah dib antara mereka yang dipandang
paling tepat dan cakap. Maka berbeda halnya dengan sistem kerajaan yang dianut
Mu’awiyah, ia tak ubahnya seperti raja-raja Persia dan Romawi sebelumnya yang
memaksakan pendapatnya kepada rakyat dan mewariskan kekuasaannya kepada anak
keturunan dan kaum kerabat sekalipun mereka tidak cakap. Semua itulah yang
dilakukan oleh Mu’awiyah.
Salah satu
contoh yang menggambarkan kekhalifahan ialah apa yang pernah dikatakan oleh
seorang Arab Badui kepada khalifah Umar: “kalau kami melihat engkau berbuat serong,
engkau akan kami luruskan dengan pedang kami” dan salah satu contoh yang menggambarkan kerajaan
ialah apa yang dikatakan Abdul Malik bin
Marwan kepada rakyatnya: “siapa yang berani berkata begini dan
begitu, akan kami jawab dengan pedang kami, begini!”. Memang benar, Mu’awiyah meraih kekuasaan
dengan jalan kekerasan dan kemenangan,
bukan melalui pemilihan, karena itu ia menjalankan pemerintahan atas dasar
penindasan.[5]
Khalifah
Mu’awiyah mendirikan suatu pemerintahan yang terorganisasi dengan baik. Setelah
terjadi berbagai kekacauan yang disertai dengan munculnya berbagai anarkisme
dan ketidakdisiplinan kaum Nomad yang tidak lagi dikendalikan oleh ikatan
agama, menyebabkan ketidakstabilan di mana-mana dan hilangnya kesatuan, selain
itu ikatan teokrasi yang telah mempersatukan kekhalifahan yang lebih dulu,
tanpa dapat dihindari telah dihancurkan oleh pembunuhan Utsman, oleh perang
saudara sebagai akibatnya, dan oleh pemindahan ibukota dari Madinah. Oligarki
di Mekkah dikalahkan dan dicemarkan. Maka, Mu’awiyah mencoba, mencari suatu dasar yang baru bagi kepaduan
imperium. Di antaranya adalah, dia mengubah kedaulatan agama menmjadi Negara
sekuler. Sekalipun demikian unsur agama di dalam pemerintah dan pemerintahan
tidak hilang sama sekali. Mu’awiyah tetap mematuhi formalitas agama dan
kadang-kadang menunjukkan dirinya sebagai pejuang islam.
Selain merubah
kedaulatan agama, Mu’awiyah juga melaksanakan perubahan-perubahan besar di
dalam pemerintahannya yakrni, angkatan daratnya yang sangat kuat dan efisien.
Dia mempunyai pasukan yang selalu taat dan setia, yang tetap berdiri di
sampingnya dalam keadaan yang paling berbahaya sekalipun. Mua’awiyah berusaha
mendirikan pemerintahan yang stabil menurut garis-garis pemerintahan Bizantium.
Dalam
administrasi, Mu’awiyah dikenal merupakan orang pertama di dalam islam yang
mendirikan suatu departemen pencatatan (diwanulkahatam).
Setiap perturan yang dikeluarkan oleh khalifah harus disalin di dalam suatu
register, kemudin yang asli harus disegel dan dikirimkan ke alamat yang dituju.
Mu’awiyah juga berhasil mengubah system administrsi pemerintahan menjadi
bercorak Arab dan tidak lagi membutuhkan pegawai-pegawai asing yang pada
mulanya dibutuhka. Kemudian ia juga berhasil mencetak mata uang sendiri. Dalam
masa yang agak panjang ummat islam dalam muammalat sehari-hari selalu
menggunakan mata uang Romawi dan Persia. Setelah kehidupan menjadi stabil,
mereka mulai membuat mata uang sendiri.
Selain diwanulkahatam, Mu’awiyah juga
memperkenalkan diwanulbarid (pelayanan
pas). Tugasnya kepala pas adalah memberitahu pemerintah pusat tentang apa yang
terjadi di dalam pemerintahan provinsi. Dengan cara ini, Mu’awiyah, melaksanakan
kekuasaan pemerintah pusat. Dia membentuk dua secretariat imperium (pusat) yang
medianya bahasa Arab, dan secretariat provinsi yang menggunakan bahasa Yunani
dan bahasa Persia. Sebagai seorang administrator yang berpandangan jauh,
Mu’awiyah memisahkan urusan keuangan dengan dari urusan pemerintahan. Akan
tetapi, untuk memungut pajak, di masing-masing provinsi, dia mengangkat seorang
pejabat khusus dengan gelar shahibulkharaj,
yang diangkat oleh khalifah dan terpisah atau tidak terkait dengan
gubernur. Justru dalam masalah keuangan gubernur harus menggantungkan dirinya
pada sahibulkharaj. Demikianlah
Mu’awiyah mengembangkan suatu keadaan yang teratur dari kekacauan.[6]
Betapapun hebatnya
pertikaian yang terjadi di kalangan kaum muslimin, Mu’awiyah dan dinastinya
yang terdiri dari orang-orang Bani Umayyah ternyata sanggup mengatasinya dengan
berbagai cara, kemudian mendirikan suatu imperium yang amat luas wilayah
kekuasaannya, penuh dengan menara-menara masjid yang menjulang tinggi di
angkasa yang mengumandangkan suara adzan menggema di udara menandakan semakin
luasnya wilayah dunia islam.[7]
B. Ekspansi Pada Masa Umayah
Secara umum, penaklukan
pemerintahan Bani Umayah, meliputi tiga wilayah. Pertama, melawan pasukan Romawi di Asia Kecil. Penaklukan ini
sampai dengan pengepungan Konstantinopel
dan beberapa kepulauan di Laut Tengah. Kedua, wilayah Afrika Utara. Penaklukan ini sampai ke Samudra
Atlantik dan menyebrang ke Gunung Thariq hingga ke Spanyol. Ketiga, wilayah timur. Penaklukan ini sampai ke sebelah timur
Irak. Kemudian, meluas kewilayah Turkistan di utara, serta ke wilayah sindh di
bagian selatan.[8]
Ekspansi yang terhenti
pada masa khalifah Usman dan Ali dilanjutkan kembali oleh dinasti ini. Di zaman
Mu’awiyah, Tunisia dapat ditaklukan. Di sebelah timur, Mu’awiyah dapat menguasai
daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Angkatan
lautnya melakukan serangan-serangan ke ibukota Bizantium, Konstantinopel.
Ekspansi ke timur yang dilakukan Mu’awiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abd
Al-Malik. Dia mengirim tentara yang menyebrangi sungai Oxus dan berhasil
menaklukan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana, dan Samarkand. Tentaranya
bahkan sampai ke India dan dapat menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab
sampai ke Maltan.
Ekspansi ke barat
secara besar-besaran dilanjutkan dib zaman al-Walid ibn Abdul Malik Masa pemerintahan Walid adalah masa
ketenteraman, kemakmuran, dan ketertiban. Umat islam merasa bahagia. Pada masa
pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu
ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa,
yaitu pada tahun 711 M. setelah al-Jazair dan Maroko dapat ditaklukan, Tariq
bin Ziyad, pemimpin pasukan islam, dengan pasukannya menyebrangi selat yang
memisahkan antara Maroko dengan , benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat
yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Tariq). Tentara Spanyol
dapat ditaklukan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi
selanjutnya. Ibukota Spanyol, Kordova dengan cepat dapat dikuasai. Menyusul
setelah itu kota-kota lain seperti Sevile, Elvira, dan Toledo yang dijadikan
ibukota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Kordova.
Di
zaman Umar ibn Abd al-Aziz, serangan dilakukan ke Perancis melalui pegunungan
Piranee. Serangan ini dipimpin oleh Abd al-Rahman ibn Abdullah al-Ghafiqi. Ia
mulai dengan menyerang Bordeau, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours.
Di samping daerah-daerah tersebut, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah
juga jatuh ke tangan islam pada zaman bani Umayah ini.
Meskipun
banyak sekali keberhasilan dicapai oleh dinasti ini, baik dalam penyusunan
system administrasi kepemerintahan, maupun dalam memperluas wilayah kekuasaan,
namun tidak berarti bahwa politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Karena Mu’awiyah
tidak mentaati perjanjiannya dengan Hasan ibn Ali ketika dia naik tahta, yang
menyebutkan bahwa persoalan penggantian pemimpin setelah Mu’awiyah diserahkan
kepada pemilihan umat islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid sebagai
putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-g erakan oposisi di kalangan
rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan
berkelanjutan.
Dari
pengangkatan Yazid sebagai putra mahkota itu, sejumlah tokoh di Madinah yang
tidak menyatakan setia kepadanya. Yazid kemudian mengirim surat kepada gubernur
Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya.
Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husein ibn Ali dan
Abdullah ibn Zubair. Maka, bersamaan dengan itu, Syi’ah (pengikut Ali)
melakukan konsolidasi (penggabungan) kekuatan kembali. Maka dimulailah perlawanan
kepada Bani Umayyah oleh Husen ibn Ali yaitu pada tahun 680M. Namun pada
akhirnya Husen ibn Ali terbunuh. Walaupun begitu perlawanan orang-orang Syi’ah
tidak pernah padam, bahkan lebih keras dan gigih. Banyak pemberontakan di
beberapa tempat yang dipelopori oleh kaum Syi’ah.
Abdulloh
ibn Zubair pun membina gerakan oposisinya setelah ia menolak sumpah setia
terhadap Yazid. Dia menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah
Husen ibn ali terbunuh. Ketika Yazid menyerang kota Mekkah maka, terjadilah
peperangan antara pasukan Yazid dan Abdulloh ibn zubair. Akhirnya perang
berhenti karena Yazid terbunuh, dan pasukan Bani Umayyah kembali ke Damaskus.
Gerakan Abdullo ibn Zubair baru bisa dihancurkan pada masa kekhalifahan abd
al-Malik.
Hubungan
pemerintah dengan golongan oposisi membaik pada masa pemerintah khalifah Umar
ibn al-Aziz (717-720). Ketika dinobatkan sebagai khalifah, dia menyatakan bahwa
memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah islam lebih baik
dari pada menambah perluasannya. Ini berarti bahwa prioritas utama adalah pembangunan
dalam negeri. Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat, dia berhasil
menjalin hubungan baik dengan golongan Syi’ah. Dia juga memberi kebebasan
kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan
kepercayaannya. Pajak diperingan. Kedudukan mawali
disejajarkan dengan muslim arab.[9]
C. Perkembangan Islam di Spanyol (Andalus)
Perkembangan Islam di Spanyol yang berlangsung lebih dari tujuh setengah abad, Islam memainkan peranan
yang sangat besar. Sejarah panjang yang dilalui Umat Islam di Spanyol
ini dapat dibagi menjadi enam periode, dimana tiap periode mempunyai corak
pemerintahan dan dinamika masyarakat tersendiri. Sejak pertama kali
menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan peranan
yang sangat besar. Masa itu berlangsung lebih dari tujuh setengah abad sejarah
panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol, itu dapat dibagi menjadi enam
periode, yaitu :
Periode Pertama (711-755 M)
Pada periode ini Spanyol
berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah
Bani Umayah yang berpusat
di Damaskus.
Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol
belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang
dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa
perselisihan di antara elite penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan
golongan. Disamping itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifah
di Damaskus
dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairwan. Masing-masing
mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol
ini.
Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali pergantian wali
(gubernur) Spanyol
dalam jangka waktu yang amat singkat. Perbedaan pandangan politik itu
menyebabkan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubungannya dengan
perbedaan etnis, terutama, antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Di dalam etnis Arab sendiri terdapat dua
golongan yang terus-menerus bersaing, yaitu suku Quraisy
(Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan
etnis ini seringkali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada
figur yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol
pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk
jangka waktu yang agak lama.
Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol
yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah mau
tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang
lebih dari 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir Islam dari bumi Spanyol.
Karena seringnya terjadi konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari
luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang
peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdurrahman al-Dakhil ke Spanyol
pada tahun 138 H/755 M.[10]
Periode Kedua (755-912 M)
Pada periode ini. Spanyol
berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau
gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu
dipegang oleh khalifah Abbasiyah di Baghdad.
Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol
tahun 138 H/755 M dan diberi gelar Al-Dakhil (Yang Masuk ke Spanyol).
Dia adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kejaran
Bani Abbas ketika yang terakhir ini berhasil menaklukkan Bani Umayyah
di Damaskus.
Selanjutnya, ia berhasil mendirikan dinasti Bani Umayyah
di Spanyol.
Penguasa-penguasa Spanyol
pada periode ini adalah Abdurrahman al-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abdurrahman al-Ausath, Muhammad ibn
Abdurrahman, Munzir ibn Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol
mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam
bidang peradaban. Abdurrahman al-Dakhil
mendirikan masjid Cordova dan
sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol.
Hisyam I dikenal berjasa
dalam menegakkan hukum Islam, dan Hakam I dikenal sebagai
pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di
Spanyol.
Sedangkan Abdurrahman al-Ausath
dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat juga mulai masuk
pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman al-Aushath.
Ia mengundang para ahli dari dunia Islam lainnya untuk datang ke Spanyol
sehingga kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol
mulai semarak.
Gangguan politik yang paling serius pada periode ini datang
dari umat Islam
sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk negara kota yang
berlangsung selama 80 tahun. Disamping itu sejumlah orang yang tak puas
membangkitkan revolusi. Yang terpenting diantaranya adalah pemberontakan yang
dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang
berpusat di pegunungan dekat Malaga. Sementara itu, perselisihan antara orang-orang Barbar dan
orang-orang Arab masih sering terjadi.
Periode Ketiga (912-1013 M)
Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman
III yang bergelar An-Nasir sampai munculnya "raja- raja kelompok" yang
dikenal dengan sebutan Muluk al-Thawaij. Pada
periode ini Spanyol
diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah,
penggunaan gelar khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman
III, bahwa Al-Muktadir, Khalifah
daulat Bani Abbas di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri.
Menurut penilaiannya, keadaan ini menunjukkan bahwa suasana pemerintahan Abbasiyah
sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang
paling tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah
selama 150 tahun lebih. Karena itulah, gelar ini dipakai mulai tahun
929 M. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga
orang, yaitu Abdurrahman al-Nashir (912-961
M), Hakam II (961-976 M),
dan Hisyam II
(976-1009 M).
Pada periode ini umat Islam Spanyol
mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah
di Baghdad.
Abdurrahman al-Nashir
mendirikan universitas Cordova. Perpustakaannya
memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang
kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini, masyarakat dapat
menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat.
Awal dari kehancuran khilafah Bani Umayyah
di Spanyol
adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu
kekuasaan aktual berada di tangan para pejabat. Pada tahun 981 M,
Khalifah menunjuk Ibn Abi Amir sebagai
pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang yang ambisius yang berhasil
menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaan Islam dengan menyingkirkan
rekan-rekan dan saingan-saingannya. Atas keberhasilan-keberhasilannya, ia
mendapat gelar al-Manshur Billah. Ia
wafat pada tahun 1002 M dan digantikan oleh anaknya al-Muzaffar yang masih
dapat mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah wafat pada tahun
1008 M, ia digantikan oleh adiknya yang tidak memiliki kualitas bagi
jabatan itu. Dalam beberapa tahun saja, negara yang tadinya makmur dilanda
kekacauan dan akhirnya kehancuran total. Pada tahun 1009 M khalifah
mengundurkan diri. Beberapa orang yang dicoba untuk menduduki jabatan itu tidak
ada yang sanggup memperbaiki keadaan. Akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan
Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan
jabatan khalifah.
Ketika itu, Spanyol
sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota
tertentu.[11]
Periode Keempat (1013-1086 M)
Pada periode ini, Spanyol
terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil di bawah pemerintahan
raja-raja golongan atau Al-Mulukuth Thawaif, yang
berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan
sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville.
Pada periode ini umat Islam
Spanyol
kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang
saudara, ada diantara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada
raja-raja Kristen.
Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama
kalinya orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif
penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan
intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para
sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana
lain.
Periode Kelima (1086-1248 M)
Pada periode ini Spanyol Islam meskipun
masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang
dominan, yaitu kekuasaan daulah Murabithun (860-1143
M) dan daulah Muwahhidun (1146-1235
M). Dinasti Murabithun pada
mulanya adalah sebuah gerakan politik yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara.
Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat
di Marakisy. Ia masuk ke Spanyol
atas "undangan" penguasa-penguasa Islam di sana yang tengah
memikul beban berat perjuangan mempertahankan negeri-negerinya dari
serangan-serangan orang-orang Kristen. Ia dan tentaranya memasuki Spanyol pada
tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia.
Karena perpecahan di kalangan raja-raja muslim, Yusuf
melangkah lebih jauh untuk menguasai Spanyol
dan ia berhasil untuk itu. Akan tetapi, penguasa-penguasa sesudah ibn Tasyfin
adalah raja-raja yang lemah. Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini
berakhir, baik di Afrika Utara maupun di Spanyol
dan digantikan oleh daulah Muwahhidun. Pada
masa daulah Murabithun, Saragossa jatuh ke tangan Kristen,
tepatnya tahun 1118 M. Di Spanyol sendiri, sepeninggal dinasti ini, pada mulanya muncul
kembali dinasti-dinasti kecil, tapi hanya berlangsung tiga tahun. Pada tahun
1146 M penguasa dinasti Muwahhidun yang
berpusat di Afrika Utara merebut daerah ini. Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibn Tumart (w.
1128). Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abdul Mun'im. Antara tahun
1114 dan 1154 M, kota-kota muslim penting,
Cordova, Almeria,
dan Granada,
jatuh ke bawah kekuasaannya.
Untuk jangka beberapa dekade, daulah ini mengalami banyak
kemajuan. Kekuatan-kekuatan Kristen dapat dipukul mundur. Akan tetapi tidak lama setelah
itu, Muwahhidun mengalami
keambrukan. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen
memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa.
Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan
penguasanya memilih untuk meninggalkan Spanyol
dan kembali ke Afrika Utara tahun 1235 M. Keadaan Spanyol
kembali runyam, berada di bawah penguasa-penguasa kecil. Dalam kondisi
demikian, umat Islam
tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen
yang semakin besar. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan
penguasa Kristen
dan Seville
jatuh tahun 1248 M. Seluruh Spanyol
kecuali Granada
lepas dari kekuatan Islam.
Periode Keenam (1248-1492 M)
Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman an-Nashir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha merampas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa'ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdinand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta.
Tentu saja, Ferdinand dan Isabella yang mempersatukan dua kerajaan besar Kristen
melalui perkawinan itu tidak cukup merasa puas. Keduanya ingin merebut
kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa
menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia
menyerahkan kekuasaan kepada Ferdinand dan Isabella, kemudian hijrah ke Afrika Utara.
Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol
tahun 1492 M. Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen
atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada
lagi umat Islam
di daerah ini
Kemajuan Peradaban
Umat Islam di Spanyol telah mencapai kejayaan yang gemilang, banyak prestasi
yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan juga dunia
kepada kemajuan yang lebih kompleks, terutama dalam hal kemajuan intelektual.
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol,
umat Islam
telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan
pengaruhnya membawa Eropa,
dan kemudian dunia, kepada kemajuan yang lebih kompleks.
1. Kemajuan Intelektual
Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan
penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan
pemikir. Masyarakat Spanyol Islam merupakan
masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun (orang-orang
Spanyol
yang masuk Islam),
Barbar
(umat Islam
yang berasal dari Afrika Utara), al-Shaqalibah (penduduk
daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria
yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan
tentara bayaran), Yahudi,
Kristen Muzareb yang berbudaya Arab,
dan Kristen
yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan
saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus
yang melahirkan Kebangkitan Ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol.
a. Filsafat
Islam
di Spanyol
telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah
Islam.
Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12.
Minat terhadap filsafat
dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa
Bani Umayyah
yang ke-5, Muhammad ibn
Abdurrahman (832-886 M).
Atas inisiatif al-Hakam (961-976 M),
karya-karya ilmiah dan filosofis diimpor dari Timur dalam jumlah besar,
sehingga Cordova dengan
perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad
sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan
oleh para pemimpin dinasti Bani Umayyah di Spanyol
ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa
sesudahnya.
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat
Arab-Spanyol
adalah Abu Bakr
Muhammad ibn al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Dilahirkan di Saragossa, ia pindah ke Sevilla
dan Granada.
Meninggal karena keracunan di Fezzan tahun 1138 M dalam usia yang masih muda. Seperti
al-Farabi
dan Ibn Sina di Timur, masalah
yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Magnum opusnya adalah Tadbir al-Mutawahhid.
Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail,
penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun
kecil di sebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M. Ia
banyak menulis masalah kedokteran, astronomi
dan filsafat.
Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan.
Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang
pengikut Aristoteles
yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rusyd dari Cordova. Ia lahir tahun
1126 M dan meninggal tahun 1198 M. Ciri khasnya adalah kecermatan
dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles
dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat
dan agama. Dia juga ahli fiqh dengan karyanya Bidayatul- Mujtahid.
b. Sains
IImu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Famas termasyhur
dalam ilmu kimia
dan astronomi.
Ialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn
Yahya al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi.
Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa
lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak
antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam
bidang obat-obatan. Ummul Hasan
binti Abi Ja'far dan saudara perempuan al-Hafidz adalah dua orang
ahli kedokteran
dari kalangan wanita.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal, Ibn Jubair dari Valencia
(1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania
dan Sicilia
dan Ibn Batuthah dari Tangier
(1304-1377 M) mencapai Samudera
Pasai dan Cina.
Ibnul Khatib (1317-1374
M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun
dari Tunisia
adalah perumus filsafat
sejarah.
Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol,
yang kemudian pindah ke Afrika. Itulah sebagian nama-nama besar dalam bidang sains.
c.
Fiqh
Dalam bidang fiqh, Spanyol Islam dikenal
sebagai penganut madzhab Maliki. Yang memperkenalkan madzhab
ini di sana adalah Ziyad ibn Abdurrahman.
Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa Hisyam Ibn Abdurrahman.
Ahli-ahli Fiqh
lainnya diantaranya adalah Abu Bakr ibn
al-Quthiyah, Munzir Ibn
Sa'id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.[12]
d.
Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan suara, Spanyol Islam mencapai
kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan Ibn Nafi' yang
dijuluki Zaryab. Setiap kali
diselenggarkan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil
mempertunjukkan kebolehannya. Ia juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu
yang dimiliknya itu diturunkan kepada anak-anaknya baik pria maupun wanita, dan
juga kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.
e.
Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam
pemerintahan Islam
di Spanyol.
Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non-Islam. Bahkan,
penduduk asli Spanyol
menomor-duakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam
bahasa Arab,
baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa. Mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, Ibn Malik pengarang Aljiyah, Ibn Khuruf, Ibnul-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur,
dan Abu Hayyan al-Ghamathi.
Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra bermunculan, seperti Al-'Iqd
al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhirahji
Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, Kitab al-Qalaid
buah karya al-Fath ibn Khaqan, dan
banyak lagi yang lain.[13]
2. Kemegahan Pembangunan Fisik
Aspek-aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian ummat
Islam sangat banyak. Dalam perdagangan, jalan-jalan dan pasar-pasar dibangun.
Bidang pertanian demikian juga. Sistem irigasi baru diperkenalkan kepada
masyarakat Spanyol
yang tidak mengenal sebelumnya. Dam-dam, kanal-kanal, saluran sekunder,
tersier, dan jembatan-jembatan air didirikan. Tempat-tempat yang tinggi, dengan
begitu, juga mendapat jatah air.
Orang-orang
Arab memperkenalkan pengaturan hidrolik untuk tujuan irigasi. Kalau dam digunakan
untuk mengecek curah air, waduk (kolam) dibuat untuk konservasi (penyimpanan
air). Pengaturan hydrolik itu dibangun dengan memperkenalkan roda air (water
wheel) asal Persia
yang dinamakan naurah (Spanyol:
Noria). Disamping itu,
orang-orang Islam
juga memperkenalkan pertanian padi, perkebunan jeruk, kebun-kebun dan
taman-taman.
Industri, disamping pertanian dan perdagangan, juga merupakan
tulang punggung ekonomi Spanyol Islam. Diantaranya adalah tekstil, kayu, kulit, logam, dan
industri barang-barang tembikar. Namun demikian, pembangunan-pembangunan fisik
yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung, seperti pembangunan
kota, istana, masjid,
pemukiman, dan taman-taman. Diantara pembangunan yang megah adalah masjid Cordova, kota az-Zahra, Istana Ja'fariyah di Saragosa, tembok Toledo, istana al-Makmun, masjid Seville, dan istana al-Hamra di Granada.
Faktor-faktor Pendukung Kemajuan
Spanyol Islam, kemajuannya
sangat ditentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang
mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abdurrahman al-Dakhil, Abdurrahman al-Wasith dan Abdurrahman an-Nashir.
Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan
penguasa-penguasa lainnya yang memelopori kegiatan-kegiatan ilmiah yang
terpenting diantara penguasa dinasti Umayyah di Spanyol
dalam hal ini adalah Muhammad ibn
Abdurrahman (852-886M) dan al-Hakam II
al-Muntashir (961-976M).
Toleransi beragama ditegakkan oleh para penguasa terhadap
penganut agama Kristen
dan Yahudi,
sehingga mereka ikut berpartisipasi mewujudkan peradaban Arab Islam di Spanyol.
Untuk orang-orang Kristen,
sebagaimana juga orang-orang Yahudi, disediakan hakim khusus yang menangani masalah sesuai
dengan ajaran agama mereka masing-masing. Masyarakat Spanyol Islam merupakan
masyarakat majemuk, terdiri dari berbagai komunitas, baik agama maupun bangsa.
Dengan ditegakkannya toleransi beragama, komunitas-komunitas itu dapat bekerja
sama dan menyumbangkan kelebihannya masing masing.
Meskipun ada persaingan yang sengit antara Abbasiyyah
di Baghdad
dan Umayyah di Spanyol,
hubungan budaya dari Timur dan Barat tidak selalu berupa peperangan. Sejak abad
ke-11 M dan seterusnya, banyak sarjana mengadakan perjalanan dari ujung barat
wilayah Islam
ke ujung timur, sambil membawa buku-buku dan gagasan-gagasan. Hal ini
menunjukkan bahwa meskipun umat Islam terpecah dalam beberapa kesatuan politik, terdapat apa
yang disebut kesatuan budaya dunia Islam.
Perpecahan politik pada masa Muluk ath-Thawa'if dan
sesudahnya tidak menyebabkan mundurnya peradaban. Masa itu, bahkan merupakan
puncak kemajuan ilmu pengetahuan, kesenian, dan kebudayaan Spanyol Islam. Setiap
dinasti (raja) di Malaga,
Toledo,
Sevilla,
Granada,
dan lain-lain berusaha menyaingi Cordova. Kalau sebelumnya Cordova merupakan
satu-satunya pusat ilmu dan peradaban Islam di Spanyol,
Muluk ath-Thawa'if
berhasil mendirikan pusat-pusat peradaban baru yang diantaranya justru lebih
maju.
Faktor Penyebab Kehancuran Bani
Umayyah
Ada
beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya
kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain adalah:
Sistem
pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi
tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas.
Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan
yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
Latar
belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari
konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi'ah (para
pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka
seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa
pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini
banyak menyedot kekuatan pemerintah.
Pada
masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani
Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam,
makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah
mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu,
sebagian besar golongan mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian
timur lainnya, merasa tidak puas karena status mawali itu menggambarkan suatu
inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada
masa Bani Umayyah.
Lemahnya
pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di
lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat
kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Disamping itu, golongan agama
banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat
kurang.
Penyebab
langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan
baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd al-Muthalib. Gerakan ini
mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi'ah, dan kaum mawali
yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.
Kesimpulan
Ø Perkembangan
administrasi negara pada masa Umayyah, berbeda dengan masa Khulafa al-Rasyidin,
pada masa Khulafa al-Rasyidin pimpinan di bagi kepada dua pimpinan pusat
disebut dengan Khalifah dan pimpinan wilayah disebut Amir atau Wali. Sedangkan
pada masa Umayyah diangkat seorang Amir al-Umara (Gubernur Jenderal) yang
membawahi beberapa Amir atau Wali sebagai penguasa wilayah. Pada masa itu pimpinan
dibagi kepada tiga, yaitu pimpinan pusat, disebut Khalifah, pimpinan wilayah
disebut Amir atau Wali, dan pimpinan yang membawahi Amir disebut Amir al-Umara.
Ø Dilakukannya
gerakan Arabisme.
Ø Penetapan
bahasa resmi Bani Umayyah adalah Bahasa Arab.
Ø Membentuk
empat departemen dalam mengatur jalannya pemerintahan;
- Diwan
Al-Kharaj (Departemen Perpajakan Tanah)
- Diwan
Al-Khatam (Departemen yang bertugas merancang ordonansi pemerintah)
- Diwan
Al-Rasail (Departemen Surat Menyurat)
- Diwan
Al-Mustagallat (Departemen Perpajakan Umum).
Ø Pembagian
kelas masyarakat yang beragama Islam, dan kelas masyarakat yang non muslim.
Adapun kelas masyarakat yang berdasarkan agama Islam (mereka disebut mawalli,
warga kelas dua inferior), dan masyarakat non muslim yang juga dibedakan kepada
dua; pertama, non muslim yang dilindungi (Ahl Al-Dzimmat), kedua, non muslim
yang dijamin keagamaannya (Al-Musta’min).
Ø Penyempurnaan
penulisan al-Quran.
Ø Penulisan
hadist.
Ø Munculnya
aliran theology.
Ø Dibangunnya
Madrasah Hasan al-Bashri.
Ø Aliran
fiqih al-Quran yang telah dikodifikasikan pada masa Abu Bakar dan Utsman ibn
Affan ditulis tanpa titik dan tanpa baris, sehingga tidak bisa menentukan huruf
dan bunyi bacaan di sempurnakan oleh Hasan al-Bashri atas perintah Abd al-Malik
ibn Marwan kepada al-Hajaj.
Ada beberapa faktor
yang menyebabkan dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran.
Faktor-faktor itu antara lain adalah:
1.
Sistem pergantian khalifah melalui garis
keturunan adalah sesuatu yang baru (bid’ah) bagi tradisi Islam yang lebih menekankan
aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidak jelasan sistem pergantian
khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan
anggota keluarga istana.
2.
Latar belakang terbentuknya dinasti Bani
Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa
Ali. Sisa-sisa Syi'ah (para pengikut Abdullah bin Saba’ al-Yahudi) dan Khawarij
terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan
akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani
Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan
pemerintah.
3.
Pada masa kekuasaan Bani Umayyah,
pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan
(Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing.
Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan
untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu, sebagian besar golongan
mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa
tidak puas karena status mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah
dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.
4.
Lemahnya pemerintahan daulat Bani
Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga
anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka
mewarisi kekuasaan. Disamping itu, para Ulama banyak yang kecewa karena
perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.
5.
Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan
dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh
keturunan al-Abbas ibn Abd al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh
dari Bani Hasyim dan dan kaum mawali yang merasa dikelas duakan oleh
pemerintahan Bani Umayyah. Wallahul Musta,’an.
Daftar Pustaka
1.
Yatim, Badri. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
2.
Mubarok, Jaih. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pusaka
Islamika.
3.
Supriadi Dedi, 2008. Sejarah Peradaban
Islam, Penerbit, Pustaka setia
4.
Al-Bidaayah Wan Nihaayah, Ibn Katsir.
5.
Sejarah Bani Umayyah, Muhammad Syu'ub,
Penerbit PT.Bulan Bintang.
6.
iFinger, The NEW OXFORD
Dictionary of ENGLISH, Oxford University Press 2001
7.
Wikipedia, bani umayyah tgl 30
oktober,2010
Ahmad Amin, Islam dari Masa ke Masa,
Rosda Karya, Bandung,
[1]
Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit, Pustaka setia, 2008.hal, 103
[3]
Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit, Pustaka setia, 2008.hal 104
[4]
Dr. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit PT RajaGrafindo Persada,
Jakarta, hal, 42
[5]
Ahmad Amin, Islam dai Masa ke Masa, Rosda Karya, Bandung, hal, 99-100
[6]
Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit, Pustaka setia, 2008.hal,105
[7]
Ahmad Amin, Islam dai Masa ke Masa, Rosda Karya, Bandung, hal, 99
[8]
Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit, Pustaka setia, 2008.hal,106
[9]
Dr. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit PT RajaGrafindo Persada,
Jakarta, hal,44-47
[10]
Dr. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit PT RajaGrafindo Persada,
Jakarta, hal,93-94
[11]
Wikipedia, bani umayyah tgl 30 oktober,2010
[12]
Dr.Jaih Mubarak.Sejarah Perdaban Islam,Pustaka
Bani Quraisy,2005.hal,112
[13]
Dr.Jaih Mubarak.Sejarah Perdaban Islam,Pustaka
Bani Quraisy,2005.hal,111-112
Tidak ada komentar:
Posting Komentar