Teori-Teori
Agama
·
Deisme
- Deisme lahir dari kekecewaan sebagian orang terhadap
praktek
keagamaan.
- Adanya peperangan atas nama agama
- Explorasi orang-orang Erofa yang menemukan fakta-fakta
peperangan walaupun terjadi pada peradaban yang hebat
·
Taylor dan Freezer mengungkapkan teori lahirnya
agama. Berangkat dari teori evolusi yang sedang gandrung di dalam masyarakat
dulu. Bukan dari atau berdasarkan wahyu.
Argumentasi-argumentasi:
-
Taylor berspekulasi bahwa yang berdampingan
dengan manusia adalah mati dan mimpi, ini merupakan phenomena yang menimbulkan
pertanyaan dalam masyarakat primitive. Dari pertanyaan ini lahirlah konsep jiwa
( Anima/Animisme).
Ketika bermimpi jiwa kita pergi dulu lalu kemudian kembali saat terbangun.
Sementara ketika mati jiwanya tak
kembali, pergi entah kemana. Maka dia meyakini bahwa ada kekuatan yang maha di
luar diri kita munculah konsep kepercayaan terhadap ruh (animisme) yang
diekspresikan lewat ritual-ritual.
-
Freezer: berangkat dari kebutuhan manusia
seperti makan, biologis dll. Tapi semua kebutuhan itu tidak semuanya terpenuhi,
ketika semua kebutuhan itu tidak dapat terpenuhi maka dia meyakini ada sesuatu
kekuatan lain di dunia ini. Maka, dia meminta sesuatu pada kekuatan itu lewat
praktek magic. Mata pencaharian masyarakat pada waktu itu adalah berburu dan
berccocok tanam. Ketika buruannnya tidak berhasil ia peroleh, ketika tanamannya
gagal panen maka kebutuhannya tidak dapat ia peroleh, dari situ pertanyaan
muncul yang menyimpulkan ada kekuatan yang lain di dunia ini maka, ia meminta
kepada kekuatan itu lewat praktek magik.
Asal
Usul Agama
-
Freud
Agama
Neurosis obsessional yang muncul dari Oedipus komplek (konflik kepribadian.
Berangkat dari kebutuhan makan dan biologis manusia Freud melahirkan
teori tentang agama; kita kenal bahwa Freud adalah seorang yang konsen dengan
teori psikoanalisis. Dia gunakan teorinya dalam meneliti tentang asal usul
agama, menurutnya dalam diri manusia itu ada yang dinamakan id, ego, dan
superego; id adalah kehendak atau keinginan, ego adalah pelaksana atau suksesi
dari keinginan tersebut, dan superego adalah sebagai filter. Lebih lanjut bahwa satu sisi kita banyak
sekali menginginkan sesuatu tapi di sisi lain ada aturan atau norma yang
menghalangi keinginan kita itu. Hanya sedikit sekali keinginan kita yang
terpenuhi diantara sekian banyak keinginan yang lainnya karena terhalang oleh
superego tersebut, maka keinginan kita yang tidak terealisasikan itu menjelma
menjadi penyakit neurosis. Dalam agama pun tidak jauh seperti itu, maka kata
Freud tingkah laku orang yang beragama itu sama dengan orang yang menderita
penyakit neurosis. Jika kita tidak mau punya penyakit neurosis maka
tinggalkanlah agama itu. Karena agama adalah penghalang dan penghambat bagi
keinginan dan kemajuan kita.
-
Durkheim
Agama
berasal dari masyarakat.
Durkheim mengutip tentang masyarakat Australia yang mempunyai Tottem,
yang kemudian dipaksakan di masyarakat. Bahwa setiap manusia yang lahir ke
dunia ini selalu dihadapkan pada norma, aturan dan nilai yang telah ada dan
kita dipaksa untuk mentaati aturan dan norma itu, karena jika tidak maka kita
akan dikucilkan dari mereka dan terasing. Itulah alasan yang menjadi teori
Durkheim tentang agama berasal dari masyarakat.
-
Marx
Manusia menurut Marx, sejak awal kemunculannya di muka bumi ini
tidaklah dimotivasi oleh ide-ide besar, tetapi oleh kepentingan-kepentingan
material yang sangat dasar untuk kelangsungan hidupnya; makanan, pakaian, dan
tempat tinggal. Oleh karena itu menurutr Marx, manusia haru sbekerja untuk
bertahan hidup. Katanya kegiatan bekerja untuk memenuhi kebutuhan ini disebut
sebagai mode of production dan keterlibatan orang lain dalam pemenuhan
kebutuhan ini disebut relation of production.
Marx mengatakan bahwa tujuan agama adalah menciptakan illusi fantasi
bagi masyarakat miskin. Saat realitas ekonomi mencegah mereka dari menemukan
kebahagiaan sejati di kehidupan ini, maka agama mengatakan kepada mereka bahwa
ini adalah OK karena mereka akan menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan
berikutnya. Orang dalam kesusahan, agama menyediakan penghiburan seperti ( Sabar ini adalah cobaan dari Tuhan), sama seperti
yang orang secara fisik terluka menerima
bantuan dari obat berbasis opiate. Masalahnya obat itu tidaklah menyembuhkan,
dia hanya bertindak sebagai penghalau rasa sakit, sementara penyakitnya itu
sendiri masih ada.
Demikian pula agama, tidak memperbaiki penyebab ketertindasan dan
penderitaan rakyat, agama justru membantu mereka lupa mengapa mereka menderita
sekaligus mengalihkan perhatian mereka. Agama menyebabkan mereka melihat ke
depan untuk masa depan yang realistis. Agama adalah ekspresi fundamental
ketidakbahagiaan dan gejala lebih fundamental serta menindas ekonomi realitas.
Agama kemudian dapat dilihat sebagai bentuk pelarian, upaya sesat untuk
keluar dari kegelisahan hidup karena tekanan, kemiskinan dan keterasingan.
Karena agama memproyeksikan harapan-harapan masa depan, maka agama bagi
kaum tertindas tidak perlu, karena yang harus diperjuangkan saat ini adalah apa
yang dibutuhkan saat ini pula.
Agama pada waktu itu dipakai oleh kaum borjuis untuk menindas
orang-orang lemah. Agama juga bisa meninabobokan orang-orang tertindas dengan
harapan-harapan semu. Agama adalah Candu dan Ovium.
Pengalaman
keagamaan
Eliade
Agama
bagi Eliade dianggap sebagai sebuah fenomena yang hanya bisa dimengerti dalam
termnya sendiri. Baginya agama itu independen tidak terikat pada aspek lain dan
tidak dapat dijelaskan melalui asfek kehidupan lain, maka untuk menjelaskannya
diperlukan formulasi dua pendeketan yaitu historis dan fenomenologi.
Menurutnya; mengkaji agama berarti mengkaji kehidupan di masa lalu,
kehidupan manusia Archaic, di mana manusia belum mengenal alat baca
tulis dan bergantung pada alam yakni bercocok tanam dan berburu serta
kehidupannya nomaden ( berpindah-pindah tempat) dimana kehidupan ditemukan.
Fenomenologi diperlukan karena tanpa metode perbandingan kita tidak
akan mengetahui kebenaran yang riil. Baginya terdapat pola umum dalam fenomena
agama yang satu dengan yang lainnya, meski berbeda masa, dan tempat
kesejarahannya, namun memiliki konsep yang sama.
Joachim
Wach
Agama bagi Wach tidak diartikan sebagai kredo ( Syahadat) gereja yang
diucapkan, artikel-aretikel keimanan yang ditandatangani di depan altar, dan
akan dipelihara dalam ucapan dan perbuatan. Tetapi, agama adalah sesuatu yang
dalam prakteknya seseorang benar-benar percaya, dengan demikian cukup tanpa
mempertahankannya sekalipun dengan dirinya sendiri. Agama adalah sesuatu yang
tidak memiliki arti bagi orang lain. Tetapi adalah sesuatu yang ditaruh
dalam-dalam di lubuk hati supaya bisa mengenalnya dengan pasti karena agama
bersentuhan dengan hal-hal yang mutlak dalam alam penuh kerahasiaan ini,
disamping kewajiban serta nasibnya ditetapkan di sana yang dalam semua hal
merupakan sesuatu yang utama, yang secara kreatif menentukan segala hal.
Ninian
Smart
Dalam bidang kajian
agama, ada banyak cara yang digunakan orang untuk mengurai dimensi-dimensi
agama. Sebab, agama sebagai refleksi tidak hanya terbatas pad akepercayaan
saja, tetapi juga terwujud dalam tindakan kolektivitas dan banguna peribadahan.
Perwujudan tersebut sebagai bentuk dari keberagamaan, sehingga agama diuraika
menjadi beberapa dimensi.
Dimensi-dimensi agama
menurut Smart:
1.
Dimensi praktis atau ritual
2.
Naratif atau mistis
3.
Pengalaman dan emosional
4.
Social/organisasional/ institusional
5.
Etis atau legal
6.
Doctrinal atau filosofis
7.
Material atau bahan.
Max
weber
Weber berpendapat bahwa bekerja bukanlah semata-mata demi memperoleh
uang untuk menunjang kehidupan tetapi merupakan suatu “panggilan”. Konsepsi
panggilan merupakan konsepsi keagamaan, yang berarti suatu tugas yang
dikehendaki Tuhan. Konsepsi panggilan ini lantas menghasilkan dogma sentral
dari seluruh kelompok umat Protestan. Maka bagi mereka “bekerja merupakan
tugas suci” inilah hubungan antara kapitalisme modern dengan etika
protestan.
Persamaan dan
perbedaan EJSM dan FDM dengan teori Taylor dan Freezer hubungannya dengan
agama?
Praktek
Keagamaan
-
Geertz
Bagi Geertz; agama
bukan hanya memainkan peran bagi terwujudnya integrasi tetapi juga memainkan
peranan pemecah belah dalam masyarakat.
Struktur/tipologi
agama menurut Geertz melalui penelitiannya di Jawa (Mojokuto)
|
|
Santri
|
Abangan
|
Priyayi
|
|
Kepercayaan
|
Islam
|
`Animisme
|
Hindu
|
|
Ideology Politiok
|
Masyumi
|
|
Nasionalis
|
|
Ekonomi
|
Pasar
|
Pedesaan
|
kantor
|
Walupun dari tipologi
itu terlihat sangat berbeda, namun tetap mereka dapa bersatu lewat semangat
nasionalisme.
-
Jainudin Maliki
Agama
tidak hanya berfungsi memberikan rasa aman pada aspek batini manusia, tetapi
juga dapat menjadi sarana legitimasi para penguasa. Dalam kerangka kekuasaan,
agama difungsikan tidak hanya sebagai tuntunan atau pedoman di dalam menyusun
birokrasi pemerintahan, tetapi juga sebagai sarana legitimasi oleh pihak yang
berkuasa.
-
Andrew Betty
Andrew Betty berbeda pandangan dengan Geertz dalam hal selametan; kata
Betty selametan bukan hanya milik abangan tetapi semua komunitas boleh
melaksanakan slametan. Oleh karena slametan ini mengandung multivokalitas (satu
symbol banyak makna), slametan akan berbeda makna ketika diartikan oleh santri,
abangan dan priyayi.
-
Modern dan postmodern dalam studi agama
1.
Konsep agama dan manusia sebagai pemeluknya
2.
Konsep masyarakat tempat agama dan manusianya
berkembang
3.
Karakter atau cirri uraian-uraian atau pembahsan hasil
studi agama
Pertama, paradigma
modern menganggap agama sebagai suatu system sehingga manusia sebagai pemeluknya
dianggap konstruk social. Sedangkan dalam paradigm postmodern agama dianggap
sebagai masalah interpretasi dan karena itu manusia pemeluknya dianggap sebagai
agen
Kedua, paradigm
modern memusatkan perhatiannya masyarakat dan dinamikanya, yaitu antara
integrative dan konflik. Sedangkan tinjauan postmodern focus pada masalah local
dan kontekstual. Mereka tidak percaya pada narasi-besar dan mempopulerkan
istilah alteritas, yang lain. Di sinilah letak perbedaan itu, jika kita masih
berpikiran nasional-lokal, tekstual-kontekstual, dengan kata lain kita msih
berpikiran dikotomis seperti itu, berarti kita berdiri dari tinjauan paradigma
modern. Orang-orasng postmo melihat dikotomis ini menyesatkan.
Ketiga, paradigm modern gemar
pada kepastian yang tetap, maka uraian pembahasannya pun desskriptif, holistic
dan statis. Paradigm modern selalu mencari dasar terkuat, dan ketika mereka
mengkomparatifkan, mereka mencari generalisai secara positivistic. Berbeda
dengan orang postmo yang tak percaya pda dominasi, mereka suka uraian
deskriptif, holistic namun dinamis dalam berbagai variasi.
Wallohu Alam…Bi Showaab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar