Jumat, 08 Juni 2012

Teori-Teori Agama


Teori-Teori Agama
·         Deisme
-         Deisme lahir dari kekecewaan sebagian orang terhadap praktek
keagamaan.
-         Adanya peperangan atas nama agama
-    Explorasi orang-orang Erofa yang menemukan fakta-fakta peperangan walaupun terjadi pada peradaban yang hebat

·         Taylor dan Freezer mengungkapkan teori lahirnya agama. Berangkat dari teori evolusi yang sedang gandrung di dalam masyarakat dulu. Bukan dari atau berdasarkan wahyu.
Argumentasi-argumentasi:
-             
        Taylor berspekulasi bahwa yang berdampingan dengan manusia adalah mati dan mimpi, ini merupakan phenomena yang menimbulkan pertanyaan dalam masyarakat primitive. Dari pertanyaan ini lahirlah konsep jiwa ( Anima/Animisme).
Ketika bermimpi jiwa kita pergi dulu lalu kemudian kembali saat terbangun. Sementara ketika  mati jiwanya tak kembali, pergi entah kemana. Maka dia meyakini bahwa ada kekuatan yang maha di luar diri kita munculah konsep kepercayaan terhadap ruh (animisme) yang diekspresikan lewat ritual-ritual.
-           
         Freezer: berangkat dari kebutuhan manusia seperti makan, biologis dll. Tapi semua kebutuhan itu tidak semuanya terpenuhi, ketika semua kebutuhan itu tidak dapat terpenuhi maka dia meyakini ada sesuatu kekuatan lain di dunia ini. Maka, dia meminta sesuatu pada kekuatan itu lewat praktek magic. Mata pencaharian masyarakat pada waktu itu adalah berburu dan berccocok tanam. Ketika buruannnya tidak berhasil ia peroleh, ketika tanamannya gagal panen maka kebutuhannya tidak dapat ia peroleh, dari situ pertanyaan muncul yang menyimpulkan ada kekuatan yang lain di dunia ini maka, ia meminta kepada kekuatan itu lewat praktek magik.

Asal Usul Agama

-          Freud

Agama Neurosis obsessional yang muncul dari Oedipus komplek (konflik kepribadian.
Berangkat dari kebutuhan makan dan biologis manusia Freud melahirkan teori tentang agama; kita kenal bahwa Freud adalah seorang yang konsen dengan teori psikoanalisis. Dia gunakan teorinya dalam meneliti tentang asal usul agama, menurutnya dalam diri manusia itu ada yang dinamakan id, ego, dan superego; id adalah kehendak atau keinginan, ego adalah pelaksana atau suksesi dari keinginan tersebut, dan superego adalah sebagai filter.  Lebih lanjut bahwa satu sisi kita banyak sekali menginginkan sesuatu tapi di sisi lain ada aturan atau norma yang menghalangi keinginan kita itu. Hanya sedikit sekali keinginan kita yang terpenuhi diantara sekian banyak keinginan yang lainnya karena terhalang oleh superego tersebut, maka keinginan kita yang tidak terealisasikan itu menjelma menjadi penyakit neurosis. Dalam agama pun tidak jauh seperti itu, maka kata Freud tingkah laku orang yang beragama itu sama dengan orang yang menderita penyakit neurosis. Jika kita tidak mau punya penyakit neurosis maka tinggalkanlah agama itu. Karena agama adalah penghalang dan penghambat bagi keinginan dan kemajuan kita.
-           
      Durkheim

Agama berasal dari masyarakat.
Durkheim mengutip tentang masyarakat Australia yang mempunyai Tottem, yang kemudian dipaksakan di masyarakat. Bahwa setiap manusia yang lahir ke dunia ini selalu dihadapkan pada norma, aturan dan nilai yang telah ada dan kita dipaksa untuk mentaati aturan dan norma itu, karena jika tidak maka kita akan dikucilkan dari mereka dan terasing. Itulah alasan yang menjadi teori Durkheim tentang agama berasal dari masyarakat.
-           
          Marx
Manusia menurut Marx, sejak awal kemunculannya di muka bumi ini tidaklah dimotivasi oleh ide-ide besar, tetapi oleh kepentingan-kepentingan material yang sangat dasar untuk kelangsungan hidupnya; makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Oleh karena itu menurutr Marx, manusia haru sbekerja untuk bertahan hidup. Katanya kegiatan bekerja untuk memenuhi kebutuhan ini disebut sebagai mode of production dan keterlibatan orang lain dalam pemenuhan kebutuhan ini disebut relation of production.
Marx mengatakan bahwa tujuan agama adalah menciptakan illusi fantasi bagi masyarakat miskin. Saat realitas ekonomi mencegah mereka dari menemukan kebahagiaan sejati di kehidupan ini, maka agama mengatakan kepada mereka bahwa ini adalah OK karena mereka akan menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan berikutnya. Orang dalam kesusahan, agama menyediakan penghiburan seperti ( Sabar ini adalah cobaan dari Tuhan), sama seperti yang orang secara fisik  terluka menerima bantuan dari obat berbasis opiate. Masalahnya obat itu tidaklah menyembuhkan, dia hanya bertindak sebagai penghalau rasa sakit, sementara penyakitnya itu sendiri masih ada.
Demikian pula agama, tidak memperbaiki penyebab ketertindasan dan penderitaan rakyat, agama justru membantu mereka lupa mengapa mereka menderita sekaligus mengalihkan perhatian mereka. Agama menyebabkan mereka melihat ke depan untuk masa depan yang realistis. Agama adalah ekspresi fundamental ketidakbahagiaan dan gejala lebih fundamental serta menindas ekonomi realitas.
Agama kemudian dapat dilihat sebagai bentuk pelarian, upaya sesat untuk keluar dari kegelisahan hidup karena tekanan, kemiskinan dan keterasingan.
Karena agama memproyeksikan harapan-harapan masa depan, maka agama bagi kaum tertindas tidak perlu, karena yang harus diperjuangkan saat ini adalah apa yang dibutuhkan saat ini pula.
Agama pada waktu itu dipakai oleh kaum borjuis untuk menindas orang-orang lemah. Agama juga bisa meninabobokan orang-orang tertindas dengan harapan-harapan semu. Agama adalah Candu dan Ovium.


Pengalaman keagamaan

Eliade

Agama bagi Eliade dianggap sebagai sebuah fenomena yang hanya bisa dimengerti dalam termnya sendiri. Baginya agama itu independen tidak terikat pada aspek lain dan tidak dapat dijelaskan melalui asfek kehidupan lain, maka untuk menjelaskannya diperlukan formulasi dua pendeketan yaitu historis dan fenomenologi.
Menurutnya; mengkaji agama berarti mengkaji kehidupan di masa lalu, kehidupan manusia Archaic, di mana manusia belum mengenal alat baca tulis dan bergantung pada alam yakni bercocok tanam dan berburu serta kehidupannya nomaden ( berpindah-pindah tempat) dimana kehidupan ditemukan.  
Fenomenologi diperlukan karena tanpa metode perbandingan kita tidak akan mengetahui kebenaran yang riil. Baginya terdapat pola umum dalam fenomena agama yang satu dengan yang lainnya, meski berbeda masa, dan tempat kesejarahannya, namun memiliki konsep yang sama.


Joachim Wach
Agama bagi Wach tidak diartikan sebagai kredo ( Syahadat) gereja yang diucapkan, artikel-aretikel keimanan yang ditandatangani di depan altar, dan akan dipelihara dalam ucapan dan perbuatan. Tetapi, agama adalah sesuatu yang dalam prakteknya seseorang benar-benar percaya, dengan demikian cukup tanpa mempertahankannya sekalipun dengan dirinya sendiri. Agama adalah sesuatu yang tidak memiliki arti bagi orang lain. Tetapi adalah sesuatu yang ditaruh dalam-dalam di lubuk hati supaya bisa mengenalnya dengan pasti karena agama bersentuhan dengan hal-hal yang mutlak dalam alam penuh kerahasiaan ini, disamping kewajiban serta nasibnya ditetapkan di sana yang dalam semua hal merupakan sesuatu yang utama, yang secara kreatif menentukan segala hal.

Ninian Smart
Dalam bidang kajian agama, ada banyak cara yang digunakan orang untuk mengurai dimensi-dimensi agama. Sebab, agama sebagai refleksi tidak hanya terbatas pad akepercayaan saja, tetapi juga terwujud dalam tindakan kolektivitas dan banguna peribadahan. Perwujudan tersebut sebagai bentuk dari keberagamaan, sehingga agama diuraika menjadi beberapa dimensi.
Dimensi-dimensi agama menurut Smart:
1.      Dimensi praktis atau ritual
2.      Naratif atau mistis
3.      Pengalaman dan emosional
4.      Social/organisasional/ institusional
5.      Etis atau legal
6.      Doctrinal atau filosofis
7.      Material atau bahan.


Max weber
Weber berpendapat bahwa bekerja bukanlah semata-mata demi memperoleh uang untuk menunjang kehidupan tetapi merupakan suatu “panggilan”. Konsepsi panggilan merupakan konsepsi keagamaan, yang berarti suatu tugas yang dikehendaki Tuhan. Konsepsi panggilan ini lantas menghasilkan dogma sentral dari seluruh kelompok umat Protestan. Maka bagi mereka “bekerja merupakan tugas suci” inilah hubungan antara kapitalisme modern dengan etika protestan.
Persamaan dan perbedaan EJSM dan FDM dengan teori Taylor dan Freezer hubungannya dengan agama?

Praktek Keagamaan

-          Geertz

Bagi Geertz; agama bukan hanya memainkan peran bagi terwujudnya integrasi tetapi juga memainkan peranan pemecah belah dalam masyarakat.

Struktur/tipologi agama menurut Geertz melalui penelitiannya di Jawa (Mojokuto)


Santri
Abangan
Priyayi
Kepercayaan
Islam
`Animisme
Hindu
Ideology Politiok
Masyumi

Nasionalis
Ekonomi
Pasar
Pedesaan
kantor

Walupun dari tipologi itu terlihat sangat berbeda, namun tetap mereka dapa bersatu lewat semangat nasionalisme.

-          Jainudin Maliki

Agama tidak hanya berfungsi memberikan rasa aman pada aspek batini manusia, tetapi juga dapat menjadi sarana legitimasi para penguasa. Dalam kerangka kekuasaan, agama difungsikan tidak hanya sebagai tuntunan atau pedoman di dalam menyusun birokrasi pemerintahan, tetapi juga sebagai sarana legitimasi oleh pihak yang berkuasa.

-          Andrew Betty
Andrew Betty berbeda pandangan dengan Geertz dalam hal selametan; kata Betty selametan bukan hanya milik abangan tetapi semua komunitas boleh melaksanakan slametan. Oleh karena slametan ini mengandung multivokalitas (satu symbol banyak makna), slametan akan berbeda makna ketika diartikan oleh santri, abangan dan priyayi.

-          Modern dan postmodern dalam studi agama

1.      Konsep agama dan manusia sebagai pemeluknya
2.      Konsep masyarakat tempat agama dan manusianya berkembang
3.      Karakter atau cirri uraian-uraian atau pembahsan hasil studi agama

Pertama, paradigma modern menganggap agama sebagai suatu system sehingga manusia sebagai pemeluknya dianggap konstruk social. Sedangkan dalam paradigm postmodern agama dianggap sebagai masalah interpretasi dan karena itu manusia pemeluknya dianggap sebagai agen

Kedua, paradigm modern memusatkan perhatiannya masyarakat dan dinamikanya, yaitu antara integrative dan konflik. Sedangkan tinjauan postmodern focus pada masalah local dan kontekstual. Mereka tidak percaya pada narasi-besar dan mempopulerkan istilah alteritas, yang lain. Di sinilah letak perbedaan itu, jika kita masih berpikiran nasional-lokal, tekstual-kontekstual, dengan kata lain kita msih berpikiran dikotomis seperti itu, berarti kita berdiri dari tinjauan paradigma modern. Orang-orasng postmo melihat dikotomis ini menyesatkan.
Ketiga,  paradigm modern gemar pada kepastian yang tetap, maka uraian pembahasannya pun desskriptif, holistic dan statis. Paradigm modern selalu mencari dasar terkuat, dan ketika mereka mengkomparatifkan, mereka mencari generalisai secara positivistic. Berbeda dengan orang postmo yang tak percaya pda dominasi, mereka suka uraian deskriptif, holistic namun dinamis dalam berbagai variasi.
 Wallohu Alam…Bi Showaab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar